Minggu, 10 Maret 2013

Bendigo: to the city and the farm


(2 Maret 2013)


Malam di sini, ditunjukkan oleh jarum jam di jam dinding. Kalau tidak salah, jam dinding menunjukkan pukul 7, padahal matahari belum terbenam. Waktunya makan malam, asyik aku bisa merasakan makan malam ala orang Australia bersama keluarga Australia. Malam itu, anak laki-laki yang bertugas set-up meja makan: menyimpan garpu, piring, dan pisau di atas meja, lalu gelas dan botol air di tengah-tengah meja. Setelah meja makan siap dengan peralatan makan, anak perempuan bertanya pada bapaknya apakah dia bisa duduk di sebelah saya. Oh,  so sweet! I love these kids. They are nice. Lalu bapaknya menjelaskan kepada saya, dan saya pun mengiyakan.
Kamipun kemudian makan malam bersama. Saya duduk di sebelah anak perempuan itu. Malam itu, kami makan ayam panggang bagian paha, sayuran rebus seperti kacang panjang dan labu kuning. Kalau boleh jujur, makanannya not as tasty as Indonesian foods alias tidak berasa asin atau gimana. Alhamdulillah, LO saya mempunyai sambal indofood sehingga bisa saya tambahkan ke dalam makanan saya. Dengan demikian, saya bisa menikmati makan malam dengan enak dan bisa menghabiskan sepiring makanan yang disediakan. Makan malam kami nikmati hingga waktu menunjukkan hampir pukul 8. Saat itu, saya bertanya jam berapa biasanya orang Australia tidur. LO sayapun menjawab bahwa anak-anak biasanya tidur jam 8 dan orang dewasa sekitar jam 9. Oh, hampir sama. Sayapun akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar saya dan tidur setelah sikat gigi dan mencuci muka.
Oh, ternyata saya lelah sekali. Saya tidur hampir 12 jam. Saya bangun setelah jam 8 pagi. Saya tetap tidur ketika di pagi hari sekali sekitar jam 6, saya mendengar seseorang telah bangun dari tidurnya, yang ternyata anak laki-laki itu. Saya sedang tidak sholat hari itu dan juga LO saya kemarin memberitahu saya bahwa saya bisa tidur lama hingga jam 9 an karena tidak ada begitu banyak agenda di hari itu.
Setelah saya bangun, saya langsung bersiap mandi. Ketika keluar, LO saya menyapa saya, “Good morning, Restri? Did you have nice sleep?” Saya jawab, “Morning. Yes, sorry I am too sleepy so I sleep long time.”  Dan sedikit percakapan tambahan. Aduh, saya berbicara bahasa Inggrisnya belepotan.
Setelah mandi dan bersiap saya dan LO saya berangkat menuju pusat kota untuk mengirimkan formulir WWC dan TFN. Namun, ketika tiba di kantor pos lewat dari jam 11, petugas di kantor pos berkata bahwa mereka bisa melakukannya sebelum jam 11. Dan lagi, hari itu, sabtu, mereka buka hingga pukul 12 siang saja. Oleh karena itu, saya hanya minta difoto saja di kantor pos tersebut. Hah! Ternyata kita bisa difoto, pas foto, di kantor pos! Tidak ada studio foto gitu di sini?  Hehe.
Setelah itu, kami mampir di Op shop karena saya ingin membeli sweater dengan harga murah. Saya pun membeli sweater hitam panjang seharga sekitar 78 dolar Australia. Lalu, kami pun pulang ke rumah. Sudah waktunya makan siang sebenarnya tapi kami tanpa makan siang, saya, LO, pasangannya serta anak-anak pergi ke pusat kota. Setelah memarkirkan mobil di pusat kota, kami berjalan menyusuri took-toko menuju Rosalind Park. Kami berjalan hingga ke bukit dan kami menaiki tower yang ada di sana. Melihat sekililing Bendigo begitu beda namun indah.
Mengingat pesan dosen bahwa kita tidak bisa sembarang mengambil foto, saya bertanya pada LO saya, “Can I take a picture?” Iapun mengiyakan. Kemudian saya mengambil beberapa foto pemandangan. Em, sebenarnya saya ingin mengambil foto saya sendiri, tapi malu. Lalu, yeh, pasangan LO saya berkata pada LO saya barangkali saya ingin bantuan untuk mengambil foto saya. Akhirnya, LO saya pun mengambilkan foto saya dengan background pemandangan bendigo dengan HP saya.
Setelah itu, kami turun dari tower dan berjalan menuju tempat kami memarkirkan mobil. Oh! Ada orang berpenampilan superman. Wow! Tunggu dulu! Orang itu hanya memakai celana dalam merah dan sayap merah sedangkan seluruh tubuhnya dicat warna biru. Ih!
Ok, lanjut lagi. Setelah LO saya membeli makanan untuk makan siang kami, kami melaju menuju Weroona Lake. Kami menikmati makan siang kami bersama di bangku dan meja di pinggir danau. Siang itu kami memakan makanan ala Turki: roti Turki yang besar dengan 3 jenis selai asin di masing-masing container (baca: misting) nya. Ternyata, di suatu tempat di pinggir danau, akan diselenggarakan wedding. Setelah selesai makan, sambil menunggu acara wedding mulai, saya bermain bersama anak-anak. Yang paling antusias dan paling mengikuti permainan adalah anak laki-laki. Kami, saat itu, bermain lempar ranting. Masing-masing kami memegang 2 batang ranting kecil. Yang satu untuk memukul ranting lain. Yang satu untuk dipukul. Semakin jauh ranting yang dipukul terlempar, semakin bagus dan itu artinya menang. Setelah beberapa lama bermain, kami berjalan-jalan mengelilingi danau. Namun, ketika kami melihat wedding akan segera berlangsung, kami segera berjalan memutar arah menuju ke sisi danau dimana wedding diselenggarakan.
Memang bukan hal yang aneh, acara pernikahan seringkali saya saksikan dengan langsung di Indonesia tapi dengan budaya Islam. Menyaksikan acara pernikahan budaya barat pun sebenarnya tidak aneh karena beberapa kali dapat disaksikan di film-film hollywood atau beritanya. Meskipun demikian, ini baru pertama kalinya bagi saya menyaksikan acara pernikahan gaya barat secara live, langsung..well ga ada yang aneh, hehe.
Setelah beberapa lama, LO saya mengajak saya untuk meninggalkan acara itu dan menghampiri anak-anak yang menunggu beberapa meter dari kami. Kemudian kami beserta anak-anak, masuk ke playing ground yang masih berada di sekitar danau. Senang, melihat anak perempuan yang bersama kami tertawa gembira karena diayunkan dengan keras oleh ayahnya di ayunan. Namun, dia jadi menangis ketika ayahnya memutuskan agar kami meninggalkan tempat itu.
Kami berjalan menyusuri sisi danau lagi untuk sampai ke tempat parkir. Sepanjang jalan kami, kami memandangi danau yang di permukaannya terdapat beberapa bebek kecil dan seekor angsa. Kami juga melihat hidung kura-kura yang muncul di permukaan air danau. Anak laki-laki meminta saya memperhatikan bebek kecil yang menyelam ke dalam air untuk mengambil makanan di dalam. Saya coba menghitung berapa lama bebek itu di dalam air. Ternyata, bebek tersebut berada di dalam air selama sekitar 10 hitungan lambat atau 10 detik.
Dari danau, kami menuju rumah kembali. Di rumah, setelah saya membereskan koper, tas jinjing, dan tas gendong saya, kami berangkat menuju rumah orang tua pasangannya di farm. Asyik! Saya bisa merasakan tinggal di farm.
Beberapa lama kemudian, kami tiba di farm. Karena pintu depan rumah di kunci, kami jalan ke belakang rumah untuk dapat masuk ke dalam rumah. Aduh! Ternyata mereka punya anjing buldog kecil, tiga lagi! Oh ya, LO saya juga mempunyai anjing besar seperti Scooby Doo tapi dia menempatkan anjingnya di belakang rumah dan tak membiarkannya masuk ke dalam rumah. Ok, kembali lagi. Anjing-anjing buldog kecil tadi berusaha untuk mendekati saya. Oh, tidak! Saya pun dengan segera bereaksi, mundur untuk menghindari mereka. Untung yang punya anjing dan yang lain segera bertindak, menyuruh mereka pergi. Setelah diijinkan masuk rumah, sayapun segera masuk rumah.
Wah! Rumahnya bagus. Dapurnya, ruang tamunya, kamar mandinya, kamar tidurnya bagus semua. Saya senang kali ini karena alhamdulillah semua kamarnya bisa dikunci. Kamar mandi dan toiletnya juga bisa dikunci!
Saya dibiarkan untuk tidur di kamar yang bagus sekali. Mereka bilang itu adalah princess room. Oh, indeed! Karena bagus sekali kamarnya.
Setelah beberapa menit duduk di kasur yang sangat nyaman, anak laki-laki datang menghampiri. Dia memberitahukan saya bahwa ada burung di suatu tempat. Entahlah, saya tidak bisa benar-benar mengerti perkataannya. Namun, ketika dia mengulangi lagi perkataannya, saya yakin dia ingin sekali saya melihatnya. Saya pun ikut bersamanya ke ruangan laundry dimana disitu ada mesin cuci, tentunya, dan peralatan mencuci, mungkin, di dalam lemari, dan juga sebuah sangkar burung beserta burungnya.
Anak laki-laki itu senang sekali mengganggu burung tersebut sehingga burung tersebut terbang kesana kemari di dalam ruang laundry. Setiap kali burung itu terbang, kami dengan serunya tiarap. Setelah beberapa lama, anak perempuan bergabung dan kami semua sambil tertawa, tiarap setiap kali burung terbang berkeliling di atas kami di ruang laudry yang sempit kira-kira 2,5 x 3 m2.
Beberapa menit kemudian, saya, LO saya dan pasangannya meninggalkan farm menuju ke suatu tempat seperti aula atau auditorium yang biasanya digunakan untuk pameran atau sejenisnya. Malam itu, kami kesana dalam rangka menghadiri acara lelang amal untuk membantu suami dari salah satu guru di Wedderburn college yang mengalami kecelakaan bersepeda dan harus dirawat selama berbulan-bulan.
Sudah banyak orang yang hadir di dalam ruangan itu. Ada banyak meja-meja bundar dikelilingi kursi-kursi, panggung, barang-barang yang dilelang dari mulai kaos olahraga bertanda tangan atlet ternama sampai crane penggali, dan sebagainya.
Keesokan pagi, meskipun merasakan kantuk berat, saya bersemangat untuk bangun dan mandi untuk berjalan-jalan di sekitar farm dan melihat kangguru yang hanya keluar ketika langit dan udara tidak panas. Setelah bersiap saya segera keluar dan berkata, “Can I have a walk around this farm?” mereka langsung mengiyakan.
Setelah memastikan bahwa anjing-anjing buldog itu tidak berkeliaran di luar tapi diam di kandang, saya keluar dan berjalan mendekati ladang luas terhampar dimana ada beberapa kangguru sedang menyantap sarapan pagi. Mengetahui saya berada di balik pagar yang membatasi saya dan mereka, mereka tidak melanjutkan makan mereka. Mereka terus memperhatikan saya karena sepertinya mereka merasa terancam dengan kehadiran saya. Karena bosan hanya diam dan memandangi mereka, saya berjalan ke arah lain menuju ke dalam hutan. Kangguru yang mengetahui kedatangan saya, segera berlari meloncat-loncat masuk ke dalam hutan lebih dalam sehingga saya tidak bisa melihat mereka dari dekat. Hutannya tidak begitu menakutkan, mungkin karena saya pernah berjalan di hutan di atas gunung malam-malam hanya bertiga sewaktu saya masih menjadi anggota pramuka di SLTA. Lagipula, ketika saya jalan di hutan di sekitar farm, waktunya masih pagi, dan hutannya tidak begitu lebat dengan pohon-pohon.
Well, setelah mengambil beberapa foto diri sendiri dan merekam sebentar burung-burung berkicau, saya berjalan keluar dari hutan. Ketika saya telah dekat rumah, anjing buldog menghampiri saya dengan gembiranya tapi saya tidak gembira! Saya mundur dan mundur seiring anjing itu mendekati saya maju dan maju. Saya pun sambil berteriak agar orang menjauhkan anjing itu dari saya. Dan anak-anak kemudian menjauhkannya dari saya. Hem, saya merasa sedikit tidak enak sebenarnya karena hal ini, tidak suka anjing, adalah hal yang aneh di sini. Saya juga sedikit merasa tidak enak pada anjing itu. Sebenarnya, dia baik dan hanya ingin mengenal saya, hehe, tapi saya tidak mau.
 Saya berjalan ke bagian belakang rumah untuk masuk. Aduh! Masih ada anjing yang lain! Saya pun segera masuk ke dalam rumah melalui dapur. Uhh!
Saya ditawari sarapan, ya tentu saja saya terima karena saya sangat lapar. Saya hampir tidak bisa melewatkan sarapan pagi karena sarapan pagi sangatlah penting. Saya dibuatkan roti bakar dengan selai apricot, homemade. Aduh! Saya tidak tahu saat itu kalau roti tawar bisa juga mengandung zat yang tidak halal. Saya baru tahu hal itu setelah beberapa hari di Australia dan saya membaca komposisi yang terdapat dalam roti tawar. Komposisi yang meragukan itu adalah emulsifier E471.
Setelah sarapan, saya meyiapkan barang-barang saya untuk pergi lagi, ke rumah LO saya dulu, lalu ke Wedderburn, kota (suburb) dimana Wedderburn college berada.
Foto Pemandangan kota Bendigo dari atas tower di Rosalind Park. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar