Rabu, 20 Maret 2013

Hari Pertama di Wedderburn


                Hari Minggu tanggal 3 Maret, saya berangkat dengan semua barang bawaan saya, termasuk berkilo-kilo daging halal yang dibelikan LO saya, ke sebuah kota kecil sekitar 80 kilometer dari Bendigo. LO saya mengantar saya dengan mobil sedan putih milik sekolah. Kami melalui jalan tol yang mereka bilang “highway” yang tidak bergerbang. Maksudnya, tol di sini tidak seperti jalan-jalan tol di Indonesia dimana kita harus masuk melalui gerbang tol, mengambil karcis dan kemudian membayar di gerbang keluar. Dengan kata lain, mereka tidak perlu mengambil karcis dan membayar tol di sini.
                Setelah melewati kota kecil Inglewood, kemudian padang luas yang mereka katakan paddic atau farm, dan juga suatu wilayah yang membuat saya geli yakni lembah yang dinamai Korong Vale, kamipun tiba di Wedderburn. Kami berhenti di depan sebuah café untuk bertemu dengan kepala sekolah dan menyantap makan siang bersama. Kami semua, setelah saling menyapa di kafe, menuju food display untuk memesan makanan. Kepala sekolah memperkenalkan saya pada satu-satunya penjaga kafe di kafe itu. Setelah itu, LO saya bertanya tentang makanan yang halal. Alhamdulillah, ada pizza vegetarian yang bisa menjadi pilihan saya. Meskipun hanya ada sepotong pizza dengan sudut sekitar 70o, saya merasa cukup siang itu. Karena saya merasa dingin, ditambah café tersebut menggunakan AC, saya memesan hot chocolate untuk saya minum sementara kepala sekolah dan LO saya memesan minuman dingin. Hihi, kata mereka mungkin, saya aneh sekali selain karena merasa dingin tapi juga karena pakaian yang saya pakai: hijab.
                Dari kafe, kami menuju sekolah yakni Wedderburn College yang jaraknya seperti dari Stasiun kereta Bandung ke Istana Plaza di jalan Pajajaran Bandung. Namun, sebenarnya lebih dekat dari itu. Di sekolah, saya diajak tour keliling sekolah yang luasnya sekitar setengah dari luas SMKN 1 Cimahi atau seluas masjid Al-Furqon ditambah BPU dan halamannya, mungkin. Fotonya mungkin bisa dilihat di website. Saya diajak melihat setiap ruangan yang ada di sekolah termasuk ruangan staff dimana ada meja-meja berjajar yang merupakan meja kerja guru-guru. Kepala sekolah dan LO menunjukkan meja kerja saya yang posisinya dekat dengan meja LO saya, tentu saja. Ruangan staff yang lain yakni ruangan dengan meja makan besar dan kursi-kursi, sofa, kitchen set, lemari pendingin, beberapa microwave, bread baker, water dispenser, dan sebagainya, juga ditunjukkan. Amazing kan! Jadi jika waktu recess atau lunch tiba, seringkali kami berkumpul di ruangan itu.
                Setelah saya melihat semua ruangan yang ada di sekolah, saya diantar ke lapangan olahraga indoor dan outdoor. Lalu, saya pun diantar masuk ke dalam kebun sekolah yang kecil tapi terdapat beberapa tanaman termasuk mentimun besar yang saya boleh bawa pulang. Asyik!
                Dari sekolah yang berada di  15 Hospital street, kami menuju ke 1 Hospital street yakni rumah sakit yang sejak 5 tahun yang lalu telah menjadi rumah sekaligus penginapan (guest  house). Di rumah ini, tinggallah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah (Dad) yang bekerja sebagai builder di Wedderburn, ibu (Mommy) yang merupakan ibu rumah tangga yang sibuk yang juga bekerja di kantor di Wedderburn, anak perempuan yang bekerja sebagai guru dan tinggal di kota Swanhill, anak laki-laki yang bekerja sebagai baker dan tinggal di kota Bendigo, anak laki-laki yang baru saja selesai sekolah di Wedderburn College dan kini bekerja sebagai builder juga atlet Australian Football atau Cricket, serta anak perempuan yang masih sekolah di tahun ke-7 yakni kelas 1 smp di Wedderburn College.
                Saya dan LO saya masuk ke dalam rumah. LO saya pikir, karena ini adalah guest house, orang bisa langsung masuk saja. Ternyata sebenarnya tidak demikian walaupun ketika kami masuk melewati pintu pertama, kami tiba di ruangan sekitar 2,5 x 2,5 m2 yang hanya terdapat sebuah lemari, cermin, pot tempat payung, dan meja dan kami perlu melewati pintu berikutnya untuk sampai di ruangan utama yakni ruangan keluarga rumah tersebut. Orang Sunda bilang, “blong blang” ketika masuk melewati pintu kedua karena antara ruangan keluarga atau ruang TV, ruang makan dan juga dapur tidak ada tembok yang memisahkan.
                Setelah menyapa dan bekenalan dengan pemilik rumah, saya dipersilahkan masuk ke dalam kamar yang akan saya tempati yang letaknya di bagian belakang rumah sejajar dengan dapur. Kamarnya lebih luas dari kamar saya. Sepertinya 2,5 kali lebih luas. Di dalam kamar tersebut, lantainya berbalut karpet tebal dan di atanya terdapat sebuah tempat tidur dengan kasur yang tebal, seprai, selembar kain putih yang lain, 2 lembar selimut, dan selembar quilt. Di atas kasur itu terdapat 5 buah bantal. Dua di antaranya bersarung putih, tiga lainnya berwarna dan berpola yang sesuai dengan warna selimut tebal dan quilt yang ada. Di kedua sisi tempat tidurnya terdapat meja kecil. Di atas satu meja terdapat lampu meja. Di atas meja yang lain terdapat radio sekaligus jam dan alarm. Tepat di depan tempat tidur terdapat pintu yang menghubungkan saya dengan wastafel yang pastinya terdapat cermin di atasnya. Di satu sisi wastafel merupakan ruangan berpintu yang terdapat toilet di dalamnya. Di sisi yang lain, terdapat shower serta tirai panjang yang menutupi. Oh ya, di sekitar wastafel, disediakan tempat sabun cair keramik beserta isinya, tempat sikat gigi yang terbuat dari keramik, dan sebagainya. Selain tempat tidur dan meja di kamar tidur, ada juga lemari untuk pakaian dan lemari berlaci banyak yang di atasnya terdapat sebuah TV dan DVD player. Tambah lagi, AC yang terpasang di atas TV. Jendela kamarnya pun OK karena langsung menghadap ke luar, ke jalan yang berada di sebelah kiri rumah. Keren sekali kan kamarnya!  
                Sudah keren kamarnya, keren juga fasilitas lainnya! Untuk keluar dari kamar tadi saya perlu melewati dua pintu: pintu kamar dan pintu yang memisahkan kamar-kamar dengan ruangan utama yang terdiri dari ruang keluarga dan sebagainya tadi. Di depan kamar di lorong di antara pintu satu dan lainnya, disimpan lemari es kecil khusus untuk saya. Makan pagi tinggal makan semaunya: mau makan sereal, atau apapun boleh. Makan siang juga demikian, tapi biasanya saya memasak sendiri atau memakan makanan sisa tadi malam. Di malam hari, terkadang saya memasak sendiri terkadang nyonya rumah yang memasak untuk semua. Jika makanan yang dimasak oleh nyonya rumah itu halal, itu berarti untuk semua. Namun, jika yang dimasak itu tidak halal, itu berarti untuk semua kecuali saya. Selain makanan utama, buah-buahan, susu, dessert pun boleh saya santap. Mesin cuci, vacuum cleaner, sepeda, boleh saya gunakan. Keren pokoknya! Baik sekali sih pemilik rumahnya!
                OK, setelah pemilik rumah menjelaskan mengenai kamar saya, kami berbincang sebentar bersama LO saya di ruang makan. Beberapa saat kemudian, setelah kepala sekolah datang dan melihat kamar saya, LO dan kepala sekolah saya pun pergi meninggalkan saya di rumah itu.
                Lalu saya masuk ke kamar yang kini jadi kamar saya sementara. Saya pun beristirahat alias tidur siang.

Ketika sore menjelang, sekitar jam 5, karena merasa lapar, sayapun keluar kamar. Nyonya pemilik rumah sedang menyiapkan makan malam rupanya. Kalau tidak salah ingat, saya menawarkan membantu tapi katanya tidak perlu. Jadi, saya duduk di ruang makan. Beberapa saat kemudian,  beberapa anggota keluarga pemilik rumah, berdatangan. Pertama, anak bungsunya yang perempuan pulang, sayapun lalu diperkenalkan. Selanjutnya, setelah agak lebih sore, kepala keluarga pun pulang. Lalu, anak ke-3 yakni laki-laki berumur 18 tahun.
Setelah makan malam siap dan meja sudah di-set, kami makan malam bersama. Kalau tidak salah, kami makan sayur rebus/kukus, kentang yang dihaluskan, dan daging ayam halal yang dibeli di butcher di Wedderburn.  Beberapa lama setelah makan, saya pamit untuk masuk ke kamar saya. Merekapun mengucapkan selamat malam atau good night.

                                                                           Kamar kosku

                                                         Ruangan utama rumah kos. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar