Hari
Minggu tanggal 3 Maret, saya berangkat dengan semua barang bawaan saya,
termasuk berkilo-kilo daging halal yang dibelikan LO saya, ke sebuah kota kecil
sekitar 80 kilometer dari Bendigo. LO saya mengantar saya dengan mobil sedan
putih milik sekolah. Kami melalui jalan tol yang mereka bilang “highway” yang tidak bergerbang.
Maksudnya, tol di sini tidak seperti jalan-jalan tol di Indonesia dimana kita
harus masuk melalui gerbang tol, mengambil karcis dan kemudian membayar di
gerbang keluar. Dengan kata lain, mereka tidak perlu mengambil karcis dan
membayar tol di sini.
Setelah
melewati kota kecil Inglewood, kemudian padang luas yang mereka katakan paddic atau farm, dan juga suatu wilayah yang membuat saya geli yakni lembah
yang dinamai Korong Vale, kamipun tiba di Wedderburn. Kami berhenti di depan
sebuah café untuk bertemu dengan kepala sekolah dan menyantap makan siang
bersama. Kami semua, setelah saling menyapa di kafe, menuju food display untuk memesan makanan. Kepala
sekolah memperkenalkan saya pada satu-satunya penjaga kafe di kafe itu. Setelah
itu, LO saya bertanya tentang makanan yang halal. Alhamdulillah, ada pizza
vegetarian yang bisa menjadi pilihan saya. Meskipun hanya ada sepotong pizza
dengan sudut sekitar 70o, saya merasa cukup siang itu. Karena saya
merasa dingin, ditambah café tersebut menggunakan AC, saya memesan hot
chocolate untuk saya minum sementara kepala sekolah dan LO saya memesan minuman
dingin. Hihi, kata mereka mungkin, saya aneh sekali selain karena merasa dingin
tapi juga karena pakaian yang saya pakai: hijab.
Dari
kafe, kami menuju sekolah yakni Wedderburn College yang jaraknya seperti dari
Stasiun kereta Bandung ke Istana Plaza di jalan Pajajaran Bandung. Namun,
sebenarnya lebih dekat dari itu. Di sekolah, saya diajak tour keliling sekolah
yang luasnya sekitar setengah dari luas SMKN 1 Cimahi atau seluas masjid
Al-Furqon ditambah BPU dan halamannya, mungkin. Fotonya mungkin bisa dilihat di
website. Saya diajak melihat setiap ruangan yang ada di sekolah termasuk
ruangan staff dimana ada meja-meja berjajar yang merupakan meja kerja
guru-guru. Kepala sekolah dan LO menunjukkan meja kerja saya yang posisinya
dekat dengan meja LO saya, tentu saja. Ruangan staff yang lain yakni ruangan
dengan meja makan besar dan kursi-kursi, sofa, kitchen set, lemari pendingin,
beberapa microwave, bread baker, water dispenser, dan sebagainya, juga
ditunjukkan. Amazing kan! Jadi jika waktu recess
atau lunch tiba, seringkali kami
berkumpul di ruangan itu.
Setelah
saya melihat semua ruangan yang ada di sekolah, saya diantar ke lapangan
olahraga indoor dan outdoor. Lalu, saya pun diantar masuk ke dalam kebun
sekolah yang kecil tapi terdapat beberapa tanaman termasuk mentimun besar yang
saya boleh bawa pulang. Asyik!
Dari sekolah yang berada di 15 Hospital street, kami menuju ke 1 Hospital
street yakni rumah sakit yang sejak 5 tahun yang lalu telah menjadi rumah
sekaligus penginapan (guest house). Di rumah ini, tinggallah sebuah
keluarga yang terdiri dari ayah (Dad)
yang bekerja sebagai builder di
Wedderburn, ibu (Mommy) yang
merupakan ibu rumah tangga yang sibuk yang juga bekerja di kantor di
Wedderburn, anak perempuan yang bekerja sebagai guru dan tinggal di kota
Swanhill, anak laki-laki yang bekerja sebagai baker dan tinggal di kota Bendigo, anak laki-laki yang baru saja
selesai sekolah di Wedderburn College dan kini bekerja sebagai builder juga atlet Australian Football atau Cricket,
serta anak perempuan yang masih sekolah di tahun ke-7 yakni kelas 1 smp di
Wedderburn College.
Saya dan LO saya masuk ke dalam
rumah. LO saya pikir, karena ini adalah guest
house, orang bisa langsung masuk saja. Ternyata sebenarnya tidak demikian
walaupun ketika kami masuk melewati pintu pertama, kami tiba di ruangan sekitar
2,5 x 2,5 m2 yang hanya terdapat sebuah lemari, cermin, pot tempat payung, dan
meja dan kami perlu melewati pintu berikutnya untuk sampai di ruangan utama yakni
ruangan keluarga rumah tersebut. Orang Sunda bilang, “blong blang” ketika masuk
melewati pintu kedua karena antara ruangan keluarga atau ruang TV, ruang makan
dan juga dapur tidak ada tembok yang memisahkan.
Setelah menyapa dan bekenalan
dengan pemilik rumah, saya dipersilahkan masuk ke dalam kamar yang akan saya
tempati yang letaknya di bagian belakang rumah sejajar dengan dapur. Kamarnya lebih
luas dari kamar saya. Sepertinya 2,5 kali lebih luas. Di dalam kamar tersebut,
lantainya berbalut karpet tebal dan di atanya terdapat sebuah tempat tidur
dengan kasur yang tebal, seprai, selembar kain putih yang lain, 2 lembar
selimut, dan selembar quilt. Di atas
kasur itu terdapat 5 buah bantal. Dua di antaranya bersarung putih, tiga
lainnya berwarna dan berpola yang sesuai dengan warna selimut tebal dan quilt yang ada. Di kedua sisi tempat
tidurnya terdapat meja kecil. Di atas satu meja terdapat lampu meja. Di atas
meja yang lain terdapat radio sekaligus jam dan alarm. Tepat di depan tempat
tidur terdapat pintu yang menghubungkan saya dengan wastafel yang pastinya
terdapat cermin di atasnya. Di satu sisi wastafel merupakan ruangan berpintu
yang terdapat toilet di dalamnya. Di sisi yang lain, terdapat shower serta tirai panjang yang
menutupi. Oh ya, di sekitar wastafel, disediakan tempat sabun cair keramik
beserta isinya, tempat sikat gigi yang terbuat dari keramik, dan sebagainya. Selain
tempat tidur dan meja di kamar tidur, ada juga lemari untuk pakaian dan lemari
berlaci banyak yang di atasnya terdapat sebuah TV dan DVD player. Tambah lagi,
AC yang terpasang di atas TV. Jendela kamarnya pun OK karena langsung menghadap
ke luar, ke jalan yang berada di sebelah kiri rumah. Keren sekali kan kamarnya!
Sudah keren kamarnya, keren juga
fasilitas lainnya! Untuk keluar dari kamar tadi saya perlu melewati dua pintu:
pintu kamar dan pintu yang memisahkan kamar-kamar dengan ruangan utama yang
terdiri dari ruang keluarga dan sebagainya tadi. Di depan kamar di lorong di
antara pintu satu dan lainnya, disimpan lemari es kecil khusus untuk saya. Makan
pagi tinggal makan semaunya: mau makan sereal, atau apapun boleh. Makan siang
juga demikian, tapi biasanya saya memasak sendiri atau memakan makanan sisa
tadi malam. Di malam hari, terkadang saya memasak sendiri terkadang nyonya
rumah yang memasak untuk semua. Jika makanan yang dimasak oleh nyonya rumah itu
halal, itu berarti untuk semua. Namun, jika yang dimasak itu tidak halal, itu
berarti untuk semua kecuali saya. Selain makanan utama, buah-buahan, susu,
dessert pun boleh saya santap. Mesin cuci, vacuum cleaner, sepeda, boleh saya
gunakan. Keren pokoknya! Baik sekali sih pemilik rumahnya!
OK, setelah pemilik rumah
menjelaskan mengenai kamar saya, kami berbincang sebentar bersama LO saya di
ruang makan. Beberapa saat kemudian, setelah kepala sekolah datang dan melihat
kamar saya, LO dan kepala sekolah saya pun pergi meninggalkan saya di rumah
itu.
Lalu saya masuk ke kamar yang
kini jadi kamar saya sementara. Saya pun beristirahat alias tidur siang.
Ketika sore menjelang, sekitar jam 5, karena merasa lapar, sayapun keluar
kamar. Nyonya pemilik rumah sedang menyiapkan makan malam rupanya. Kalau tidak
salah ingat, saya menawarkan membantu tapi katanya tidak perlu. Jadi, saya
duduk di ruang makan. Beberapa saat kemudian, beberapa anggota keluarga pemilik rumah,
berdatangan. Pertama, anak bungsunya yang perempuan pulang, sayapun lalu
diperkenalkan. Selanjutnya, setelah agak lebih sore, kepala keluarga pun
pulang. Lalu, anak ke-3 yakni laki-laki berumur 18 tahun.
Setelah makan malam siap dan meja sudah di-set, kami makan malam bersama.
Kalau tidak salah, kami makan sayur rebus/kukus, kentang yang dihaluskan, dan
daging ayam halal yang dibeli di butcher
di Wedderburn. Beberapa lama setelah makan,
saya pamit untuk masuk ke kamar saya. Merekapun mengucapkan selamat malam atau good night.
Kamar kosku
Ruangan utama rumah kos.
Kamar kosku
Ruangan utama rumah kos.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar