Minggu, 10 Maret 2013

Melbourne to Bendigo


(1 Maret 2013)

Setelah beberapa lama menunggu di sebuah warung kopi di bandara, LO sayapun tiba. Dia adalah seorang wanita berumur 29 tahun, bertubuh tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, berambut gaya Jamaika, dan bertindik di hidung. Meskipun ini pertemuan pertama kami, saya tidak merasa canggung karena kami sudah berkomunikasi melalui email sejak beberapa bulan yang lalu. Kamipun bersalaman dan cium pipi kanan serta kiri.
Kemudian, kami berjalan menuju ke tempat parkir dimana pasangan LO saya menunggu. LO saya membantu saya membawakan koper saya ke tempat parkir. Lalu, pasangannya membantu saya mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Itu setelah saya diperkenalkan kepadanya tentunya.
Dengan mobil sedan putih, kami melaju menuju Bendigo, kota dimana mereka tinggal bersama. Kami berbincang-bincang sedikit di dalam mobil. Dengan malu-malu saya merekam sebentar pemandangan di jalan untuk saya bagikan dengan keluarga dan teman di Indonesia. Wah! Mata saya jauh memandang karena sepanjang jalan di luar Melbourne, yang saya lihat adalah padang yang luas dengan rumput yang tidak hijau. LO saya pun menjelaskan bahwa hujan sudah lama tidak membasahi ladang ini sejak cukup lama.
Setelah beberapa lama melaju dan kami tiba di deretan toko-toko, kami mampir sebentar di sebuah kafe. Satu hal yang ingin saya lakukan adalah minum. Oleh karenanya, saya segera mengambil sebotol air mineral di dalam kulkas di kafe tersebut. Lalu, LO saya menawarkan jika saya ingin membeli kue. Saya tanya padanya apakah ada kue yang halal. Saya tidak ragu bertanya demikian pada LO saya karena pernah suatu ketika kami berkomunikasi melalui email, LO saya memberikan informasi bahwa daging halal ada di kota Bendigo tapi tidak di Wedderburn. Sejak itu, saya tahu bahwa LO saya tahu bahwa muslim memilih makanan. LO sayapun kemudia membantu memilihkan. Dia memilih kue khas Autralia bernama Lamington. Katanya kue ini hanya terbuat dari kue  biasa, coklat, dan selai. Untuk memastikan saya kembali bertanya pada LO apakah kue ini mengandung gellatin karena biasanya beberapa coklat mengandung gellatin yang belum tentu kehalalannya. Wah! LO saya memang baik. Dia kemudian membantu saya mencari tahu dengan bertanya kepada pelayan kafe tentang kandungan kue Lamington tersebut. Setelah ditanyakan, ternyata kue tersebut tidak mengandung gellatin. Oleh karenanya, saya membeli kue tersebut. Wah! LO saya baik. Dia membayar sebotol minum dan kue yang saya ambil. Asyik! Tidak keluar uang.
Setelah pasangan LO saya meminum segelas kopi, kami berangkat menuju rumah LO saya. Rumahnya tidak luas tapi lebih luas daripada rumah saya. Ada 7 ruangan di rumah itu. Satu ruang adalah kamar tidurnya. Satu ruang adalah kamar tidur anak-anak. Satu ruang digunakan untuk penyimpanan. Satu ruang digunakan seperti ruang kerja dan selama ada saya, ruangan ini dijadikan kamar tidur saya. Satu ruangan adalah kamar mandi. Ruangan lainnya adalah dapur dan ruang TV sekaligus ruang tamu dan keluarga.
Setelah beberapa saat berada di rumah LO saya. Mereka menyiapkan kasur untuk saya tidur di ruangan kerja yang tadi saya sebutkan. Setelah siap, LO saya menawarkan agar saya mandi atau istirahat. Saya merasa sangat lelah karena tidak tidur cukup di pesawat. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk istirahat terlebih dulu. Sayapun kemudian masuk kamar yang ternyata tidak ada lubang kuncinya sehingga saya tidak bisa menguncinya. Saya tidur dengan masih memakai kerudung karena khawatir saya masih dapat dilihat dari luar dengan kondisi pintu geser yang tidak terlalu bisa tertutup rapat.
Setelah merasa cukup beristirahat, sayapun bangun. Saya siapkan peralatan mandi dan pakaian untuk saya bawa ke kamar mandi sehingga saya bisa berganti pakaian di kamar mandi yang saya pikir terdapat kunci pada pintunya. Tapi ternyata, ketika saya sudah masuk di kamar mandi yang kering itu, pintunya tidak memiliki lubang kunci bahkan tidak ada benda apapun yang bisa mengunci pintunya! Aduh! Bagaimana ini?!
Anyway, saya tetap mandi dengan masih memakai pakaian yang saya pakai sejak kemarin!
Tak berapa lama setelah saya mandi, LO saya menawarkan jika saya ingin makan. Saat itu, entah kenapa saya belum merasa lapar. Jadi, setelah bersiap kami langsung pergi ke pusat kota Bendigo tanpa makan siang. Pertama, kami pergi ke toko OPTUS untuk membeli simcard OPTUS, salah satu provider di Australia yang disarankan language assistant tahun lalu. Aduh! Saya tidak bisa begitu mengerti ketika petugas OPTUS menjelaskan beberapa hal kepada LO saya. Setelah itu, kami ke Bendigo Bank agar saya bisa membuat rekening tabungan di bank tersebut. Salah satu cutomer service membantu kami dan menjelaskan beberapa jenis rekening dan kartu ATM. Saya berusaha untuk benar-benar berkonsentrasi agar bisa mengerti apa yang dikatakan customer service tersebut. Terkadang atau bahkan seringkali saya berkata, “Pardon.” agar orang tersebut mengulangi perkataannya. Dan seringkali juga saya melihat ke arah LO saya, mengisyaratkan bahwa saya perlu penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Alhamdulillah, LO saya bisa menjelaskan dengan bahasa dan kecepatan berbicara yang saya bisa tangkap dan mengerti. Dari bank, kami berjalan menuju kantor pos untuk mengambil formulir Working With Children (WWC) di kantor pos yang tidak jauh dari bank. Saya harus membuat aplikasi WWC agar saya mendapat ijin bekerja di sekolah yang mengharuskan saya terlibat bersama anak-anak. Dari kantor pos, kami menyebrang jalan ke News Agency untuk mengambil formulir Tax File Number (TFN). Semua orang yang bekerja di Australia, baik yang wajib pajak atau tidak, harus punya TFN semacam NPWP di Indonesia. Namun, di akhir suatu bulan, katanya, saya akan mendapatkan kembali uang-uang yang saya bayarkan untuk pajak karena saya dengan gaji sekian yang saya dapat bukanlah merupakan wajib pajak.
Satu hal yang membuat saya amazed sejak dari toko OPTUS adalah mereka, para petugas, ramah-ramah. Mereka menyapa duluan, menanyakan kabar, dan sebagainya, “Oh, hi, how are you going? Can I help you?” Juga para pelanggannya mengantri dengan tertib.
Satu hal lagi, di setiap pertigaan atau perempatan atau perlimaan, mobil yang dikemudikan LO saya ini selalu berhenti terlebih dahulu meskipun tidak ada lampu lalu lintas. Mobil ini berhenti dan membiarkan mobil dari arah kanan, jika ada, melaju duluan. Wah! Tertib! Saya heran lalu saya tanyakan kenapa dia selalu berhenti begitu. Dia bilang, peraturan mengatakan bahwa kamu harus membiarkan kendaraan dari arah kanan berjalan terlebih dahulu, sebelum kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar