(1 Maret 2013)
Setelah beberapa lama menunggu di sebuah warung kopi di bandara, LO sayapun tiba. Dia adalah seorang wanita berumur 29 tahun, bertubuh tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, berambut gaya Jamaika, dan bertindik di hidung. Meskipun ini pertemuan pertama kami, saya tidak merasa canggung karena kami sudah berkomunikasi melalui email sejak beberapa bulan yang lalu. Kamipun bersalaman dan cium pipi kanan serta kiri.
Setelah beberapa lama menunggu di sebuah warung kopi di bandara, LO sayapun tiba. Dia adalah seorang wanita berumur 29 tahun, bertubuh tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, berambut gaya Jamaika, dan bertindik di hidung. Meskipun ini pertemuan pertama kami, saya tidak merasa canggung karena kami sudah berkomunikasi melalui email sejak beberapa bulan yang lalu. Kamipun bersalaman dan cium pipi kanan serta kiri.
Kemudian, kami berjalan menuju ke
tempat parkir dimana pasangan LO saya menunggu. LO saya membantu saya membawakan
koper saya ke tempat parkir. Lalu, pasangannya membantu saya mengangkatnya dan
memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Itu setelah saya diperkenalkan kepadanya
tentunya.
Dengan mobil sedan putih, kami
melaju menuju Bendigo, kota dimana mereka tinggal bersama. Kami berbincang-bincang
sedikit di dalam mobil. Dengan malu-malu saya merekam sebentar pemandangan di
jalan untuk saya bagikan dengan keluarga dan teman di Indonesia. Wah! Mata saya
jauh memandang karena sepanjang jalan di luar Melbourne, yang saya lihat adalah
padang yang luas dengan rumput yang tidak hijau. LO saya pun menjelaskan bahwa
hujan sudah lama tidak membasahi ladang ini sejak cukup lama.
Setelah beberapa lama melaju dan
kami tiba di deretan toko-toko, kami mampir sebentar di sebuah kafe. Satu hal
yang ingin saya lakukan adalah minum. Oleh karenanya, saya segera mengambil
sebotol air mineral di dalam kulkas di kafe tersebut. Lalu, LO saya menawarkan
jika saya ingin membeli kue. Saya tanya padanya apakah ada kue yang halal. Saya
tidak ragu bertanya demikian pada LO saya karena pernah suatu ketika kami
berkomunikasi melalui email, LO saya memberikan informasi bahwa daging halal
ada di kota Bendigo tapi tidak di Wedderburn. Sejak itu, saya tahu bahwa LO
saya tahu bahwa muslim memilih makanan. LO sayapun kemudia membantu memilihkan.
Dia memilih kue khas Autralia bernama Lamington. Katanya kue ini hanya terbuat
dari kue biasa, coklat, dan selai. Untuk
memastikan saya kembali bertanya pada LO apakah kue ini mengandung gellatin
karena biasanya beberapa coklat mengandung gellatin yang belum tentu
kehalalannya. Wah! LO saya memang baik. Dia kemudian membantu saya mencari tahu
dengan bertanya kepada pelayan kafe tentang kandungan kue Lamington tersebut. Setelah
ditanyakan, ternyata kue tersebut tidak mengandung gellatin. Oleh karenanya, saya
membeli kue tersebut. Wah! LO saya baik. Dia membayar sebotol minum dan kue
yang saya ambil. Asyik! Tidak keluar uang.
Setelah pasangan LO saya meminum
segelas kopi, kami berangkat menuju rumah LO saya. Rumahnya tidak luas tapi
lebih luas daripada rumah saya. Ada 7 ruangan di rumah itu. Satu ruang adalah
kamar tidurnya. Satu ruang adalah kamar tidur anak-anak. Satu ruang digunakan
untuk penyimpanan. Satu ruang digunakan seperti ruang kerja dan selama ada
saya, ruangan ini dijadikan kamar tidur saya. Satu ruangan adalah kamar mandi. Ruangan
lainnya adalah dapur dan ruang TV sekaligus ruang tamu dan keluarga.
Setelah beberapa saat berada di
rumah LO saya. Mereka menyiapkan kasur untuk saya tidur di ruangan kerja yang
tadi saya sebutkan. Setelah siap, LO saya menawarkan agar saya mandi atau
istirahat. Saya merasa sangat lelah karena tidak tidur cukup di pesawat. Oleh karena
itu, saya memutuskan untuk istirahat terlebih dulu. Sayapun kemudian masuk
kamar yang ternyata tidak ada lubang kuncinya sehingga saya tidak bisa
menguncinya. Saya tidur dengan masih memakai kerudung karena khawatir saya
masih dapat dilihat dari luar dengan kondisi pintu geser yang tidak terlalu
bisa tertutup rapat.
Setelah merasa cukup
beristirahat, sayapun bangun. Saya siapkan peralatan mandi dan pakaian untuk
saya bawa ke kamar mandi sehingga saya bisa berganti pakaian di kamar mandi
yang saya pikir terdapat kunci pada pintunya. Tapi ternyata, ketika saya sudah
masuk di kamar mandi yang kering itu, pintunya tidak memiliki lubang kunci
bahkan tidak ada benda apapun yang bisa mengunci pintunya! Aduh! Bagaimana ini?!
Anyway, saya tetap mandi dengan masih memakai pakaian yang saya
pakai sejak kemarin!
Tak berapa lama setelah saya
mandi, LO saya menawarkan jika saya ingin makan. Saat itu, entah kenapa saya
belum merasa lapar. Jadi, setelah bersiap kami langsung pergi ke pusat kota
Bendigo tanpa makan siang. Pertama, kami pergi ke toko OPTUS untuk membeli
simcard OPTUS, salah satu provider di Australia yang disarankan language assistant tahun lalu. Aduh! Saya
tidak bisa begitu mengerti ketika petugas OPTUS menjelaskan beberapa hal kepada
LO saya. Setelah itu, kami ke Bendigo Bank agar saya bisa membuat rekening
tabungan di bank tersebut. Salah satu cutomer service membantu kami dan
menjelaskan beberapa jenis rekening dan kartu ATM. Saya berusaha untuk
benar-benar berkonsentrasi agar bisa mengerti apa yang dikatakan customer service tersebut. Terkadang atau
bahkan seringkali saya berkata, “Pardon.” agar orang tersebut mengulangi
perkataannya. Dan seringkali juga saya melihat ke arah LO saya, mengisyaratkan
bahwa saya perlu penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Alhamdulillah,
LO saya bisa menjelaskan dengan bahasa dan kecepatan berbicara yang saya bisa
tangkap dan mengerti. Dari bank, kami berjalan menuju kantor pos untuk
mengambil formulir Working With Children
(WWC) di kantor pos yang tidak jauh dari bank. Saya harus membuat aplikasi WWC
agar saya mendapat ijin bekerja di sekolah yang mengharuskan saya terlibat
bersama anak-anak. Dari kantor pos, kami menyebrang jalan ke News Agency untuk mengambil formulir Tax File Number (TFN). Semua orang yang
bekerja di Australia, baik yang wajib pajak atau tidak, harus punya TFN semacam
NPWP di Indonesia. Namun, di akhir suatu bulan, katanya, saya akan mendapatkan
kembali uang-uang yang saya bayarkan untuk pajak karena saya dengan gaji sekian
yang saya dapat bukanlah merupakan wajib pajak.
Satu hal yang membuat saya amazed sejak dari toko OPTUS adalah
mereka, para petugas, ramah-ramah. Mereka menyapa duluan, menanyakan kabar, dan
sebagainya, “Oh, hi, how are you going? Can I help you?” Juga para pelanggannya
mengantri dengan tertib.
Satu hal lagi, di setiap
pertigaan atau perempatan atau perlimaan, mobil yang dikemudikan LO saya ini
selalu berhenti terlebih dahulu meskipun tidak ada lampu lalu lintas. Mobil ini
berhenti dan membiarkan mobil dari arah kanan, jika ada, melaju duluan. Wah! Tertib!
Saya heran lalu saya tanyakan kenapa dia selalu berhenti begitu. Dia bilang,
peraturan mengatakan bahwa kamu harus membiarkan kendaraan dari arah kanan
berjalan terlebih dahulu, sebelum kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar