(1 Maret 2013)
Oh ya, ketika di pusat kota Bendigo, saya dan LO saya menyempatkan berbelanja beberapa bahan makanan. Melihat ada sayuran campur seperti kol putih, kol ungu, dan yang lainnya terbungkus telah diiris, saya jadi ingat bala-bala. Saya pun bertanya pada LO saya apakah saya bisa membuat bala-bala di rumahnya nanti. Diapun mengiyakan dan mengijinkan saya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bala-bala.
Oh ya, ketika di pusat kota Bendigo, saya dan LO saya menyempatkan berbelanja beberapa bahan makanan. Melihat ada sayuran campur seperti kol putih, kol ungu, dan yang lainnya terbungkus telah diiris, saya jadi ingat bala-bala. Saya pun bertanya pada LO saya apakah saya bisa membuat bala-bala di rumahnya nanti. Diapun mengiyakan dan mengijinkan saya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bala-bala.
Sampai di rumah, setelah beberapa
lama, anak-anak datang. Satu di antaranya adalah anak laki-laki berumur sekitar
11 tahun. Satu lagi, anak perempuan yang lebih muda berumur sekitar 6 tahun. Anak
laki-laki tersebut begitu sopan, baik, dan lucu. Ketika masuk rumah, dia
langsung menyapaku, “Hi, Restri” sambil tersenyum. Ih lucunya. Lalu saya
membalas sapanya dan bertanya dimana adiknya. Diapun menjawab sambil tersenyum.
Kemudian, masuklah anak perempuan yang dimaksud. Dia sepertinya pemalu sehingga
dia tidak menyapaku duluan. Oleh karenanya, saya menyapanya terlebih dulu.
Waktu menunjukkan pukul berapa
gitu di sore hari kalau di Indonesia. LO saya mulai memasak. Karena tahu saya
makan yang halal. LO saya memasak daging ayam yang dibeli di sebuah butcher di Bendigo dan berlabel halal. Saya
pun membuat bala-bala dengan bahan-bahan yang ada. Umm, saya, untuk pertama
kalinya, menggunakan garam dan merica dengan suatu alat yang mengharuskanmu
memutar-mutarnya agar garam dan mericanya bubuk dan keluar. Sudah beberapa kali
saya tambahkan garam ke adonan bala-bala saya, tapi tetap tidak terasa asin. Setelah
adonan digoreng dengan minyak, bukan minyak kelapa, jadilah beberapa buah
bala-bala, cukup banyak ternyata. LO saya mencobanya dan dia bilang enak, entah
apakah dia benar-benar merasa itu enak. Pasangannya pun makan, begitu juga anak
laki-lakinya. Tapi tidak dengan anak perempuan yang tidak suka sayur ini.
Setelah beberapa lama, karena
makan malam belum siap, anak-anak meminta saya melihat dan masuk ke kamar
mereka. Mereka bilang, “Can I show you my room?” Saya bilang, “Pardon.” Karena saya
tidak terlalu bisa menangkap perkataan mereka dengan lafal yang kurang jelas. Setelah
dijelaskan LO saya, sayapun mengiyakan. Lalu, sayapun masuk ke dalam kamar
mereka. Mereka langsung begerak menunjukkan mainan-mainan yang mereka punya. Saya
merasa senang saja meskipun masih merasa lelah karena perjalanan panjang dari
Indonesia ke Australia. Karena senang, saya senyum-senyum saja dengan semua
yang mereka katakan dan tunjukkan. Suatu waktu saya jadi tertawa dan LO saya
yang mengintip sebentar pun tertawa ketika anak laki-laki menunjukkan kertas
berbentuk orang yang berlipat-lipat banyak dan bertanya, “Do you have paper?” Dengan
jelas sambil tersenyum, “Yes, of course, I have paper. There is paper in
Indonesia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar