Minggu, 10 Maret 2013

Ada yang lucu, dasar anak kecil, hehehe


(1 Maret 2013)

Oh ya, ketika di pusat kota Bendigo, saya dan LO saya menyempatkan berbelanja beberapa bahan makanan. Melihat ada sayuran campur seperti kol putih, kol ungu, dan yang lainnya terbungkus telah diiris, saya jadi ingat bala-bala. Saya pun bertanya pada LO saya apakah saya bisa membuat bala-bala di rumahnya nanti. Diapun mengiyakan dan mengijinkan saya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bala-bala.
Sampai di rumah, setelah beberapa lama, anak-anak datang. Satu di antaranya adalah anak laki-laki berumur sekitar 11 tahun. Satu lagi, anak perempuan yang lebih muda berumur sekitar 6 tahun. Anak laki-laki tersebut begitu sopan, baik, dan lucu. Ketika masuk rumah, dia langsung menyapaku, “Hi, Restri” sambil tersenyum. Ih lucunya. Lalu saya membalas sapanya dan bertanya dimana adiknya. Diapun menjawab sambil tersenyum. Kemudian, masuklah anak perempuan yang dimaksud. Dia sepertinya pemalu sehingga dia tidak menyapaku duluan. Oleh karenanya, saya menyapanya terlebih dulu.
Waktu menunjukkan pukul berapa gitu di sore hari kalau di Indonesia. LO saya mulai memasak. Karena tahu saya makan yang halal. LO saya memasak daging ayam yang dibeli di sebuah butcher di Bendigo dan berlabel halal. Saya pun membuat bala-bala dengan bahan-bahan yang ada. Umm, saya, untuk pertama kalinya, menggunakan garam dan merica dengan suatu alat yang mengharuskanmu memutar-mutarnya agar garam dan mericanya bubuk dan keluar. Sudah beberapa kali saya tambahkan garam ke adonan bala-bala saya, tapi tetap tidak terasa asin. Setelah adonan digoreng dengan minyak, bukan minyak kelapa, jadilah beberapa buah bala-bala, cukup banyak ternyata. LO saya mencobanya dan dia bilang enak, entah apakah dia benar-benar merasa itu enak. Pasangannya pun makan, begitu juga anak laki-lakinya. Tapi tidak dengan anak perempuan yang tidak suka sayur ini.
Setelah beberapa lama, karena makan malam belum siap, anak-anak meminta saya melihat dan masuk ke kamar mereka. Mereka bilang, “Can I show you my room?” Saya bilang, “Pardon.” Karena saya tidak terlalu bisa menangkap perkataan mereka dengan lafal yang kurang jelas. Setelah dijelaskan LO saya, sayapun mengiyakan. Lalu, sayapun masuk ke dalam kamar mereka. Mereka langsung begerak menunjukkan mainan-mainan yang mereka punya. Saya merasa senang saja meskipun masih merasa lelah karena perjalanan panjang dari Indonesia ke Australia. Karena senang, saya senyum-senyum saja dengan semua yang mereka katakan dan tunjukkan. Suatu waktu saya jadi tertawa dan LO saya yang mengintip sebentar pun tertawa ketika anak laki-laki menunjukkan kertas berbentuk orang yang berlipat-lipat banyak dan bertanya, “Do you have paper?” Dengan jelas sambil tersenyum, “Yes, of course, I have paper. There is paper in Indonesia.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar