Senin, 01 April 2013

Home sick


Tanggal 31 maret, sebulan sudah saya di Australia. Kalau saya merasakan perasaan dari lubuk hati yang paling dalam, dengan jujur, saya merasa rindu keluarga, rindu sahabat, rindu indonesia. Apakah ini karena beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun saya? Apakah karena sekarang ini tidak banyak yang saya lakukan di luar rumah: hanya diam di rumah kosan, di dalam kamar, mendengarkan lagu, mengetik, dan sebagainya?
                Saya rindu keluarga, rindu sahabat, rindu indonesia tapi masih sekitar 9 bulan lagi saya harus di sini. Heu,,lagu yang saya dengarkan saat ini tambah bikin sedih. Namun, seberapa besar rasa rindu yang saya rasapun, saya tidak boleh bersedih dan menyesali keputusan saya untuk berada di sini.
                Walaubagaimanapun semua ini harus saya jalani dengan lapang yakni harus saya nikmati.

Sekolah


                Tanggal 4 Maret, saya bangun pagi sekitar jam 6. Lalu, saya mandi bersiap untuk pergi ke sekolah. Tak lupa, saya membawa batch yang tertera nama lengkap saya. Jam 8 pagi, saya sudah siap di luar kamar yakni di ruang makan. Saya tidak ingat waktu itu saya sarapan apa. Saya juga tidak ingat makanan apa yang saya bekal ke sekolah untuk makan siang.
                Setelah anak ibu kos yang bungsu siap untuk pergi ke sekolah, saya, ibu kos, dan anaknya berangkat berjalan kaki menuju sekolah. Saya dan anak perempuan bungsu bu kos itupun berpisah dengan ibu kos di depan sekolah. Kami berjalan masuk menuju gedung sekolah sedangkan ibu kos mengendarai sepeda yang dari tadi didorongnya menuju kantornya yang tidak terlalu jauh dari sekolah.
                Setelah masuk di dalam gedung sekolah, anak perempuan bu kos, Tahlia, menunjukkan saya ruangan staf yang padahal saya telah ketahui. Kami pun berpisah di depan pintu ruangan staf. Saya masuk keruangan staf sedangkan Tahlia menuju arah lain ke ruangan kelasnya. Saat itu, masih pagi karena masih jam 8 lebih sekitar 20 menit an. Sedangkan, para staf diwajibkan datang paling lambat jam 8 lewat 45 menit. Ketika saya masuk ruangan kerja staf, saya sudah melihat LO saya duduk di kursi mejanya.
                Sejak saat itu, setiap kali bertemu staf, LO saya memperkenalkan saya kepada staf tersebut. Hari itu, banyak sekali staf yang dikenalkan kepada saya. Saya harus mulai mengingat nama dan wajah yang bagi saya mirip semua.
Alhamdulillah, para staf baik-baik dan ramah-ramah sehingga saya merasa disambut. Mereka senantiasa menyapa jika bertemu, “Hi Restri, how are you going?” atau “Morning Restri, how are you?” dan ada juga staf yang menyapa dan menanyakan kabar dengan kalimat yang belum pernah saya dengar. Lalu, saya berkata, “Pardon.” Sehingga dia mengulangi perkataannya. Kemudian saya berkata, “pardon” lagi karena masih tidak mengerti. Lalu, dia pun mengganti kalimat sebelumnya dengan “How are you going?” yakni menanyakan kabar saya. Saya tidak ingat kalimatnya seperti apa karena untuk menangkapnya saja sulit.
Di hari pertama di sekolah itu juga saya masuk ke kelas bahasa Indonesia. Saya memperkenalkan diri dan menunjukkan beberapa foto seperti foto saya dan keluarga, foto rumah, dan foto kamar tidur. Di hari berikutnya, di kelas yang berbeda, saya pun memperkenalkan diri saya seperti di hari pertama. Dan begitu seterusnya hingga saya memperkenalkan diri di semua kelas dari kelas 3 hingga 11.
Setelah saya memperkenalkan diri, para siswa diberikan kesempatan untuk bertanya apapun. Ada yang bertanya tentang sekolah di Indonesia, makanan favorit saya, warna favorit saya, dan sebagainya.  Suatu waktu, ada seorang siswa yang bertanya seberapa besar sekolah saya. Saya katakan sejujurnya bahwa di sekolah dasar bisa ada 40 siswa per kelasnya dan sekitar 480 siswa dalam satu sekolah dasar saja, di SMP bisa lebih banyak lagi, dan di sekolah saya yakni SMK bisa jauh lebih banyak lagi.  Tiba-tiba, salah seorang siswa dengan spontan berkata, “Wholly Molly!” yang saya yakin maksudnya adalah banyak sekali. Itu karena di sekolah ini, hanya ada sekitar 240 siswa secara total dari kelas preparation hingga kelas 12. Dan di setiap kelasnya di sekolah ini, hanya terdapat 10 atau paling banyak 25 siswa. Sekolah ini memang sekolah kecil di kota kecil.
Hari Senin sampai Rabu saya pergi ke sekolah. Di hari Kamis, saya tidak perlu pergi karena tidak ada jadwal bahasa Indonesia di hari itu. Hari Jum’at saya pergi ke sekolah lagi pagi-pagi, selalu. Setiap ada jadwal, LO saya, yang merupakan guru bahasa Indonesia satu-satunya, dan saya masuk kelas. Ketika tidak ada jadwal, kami mempersiapkan bahan mengajar untuk kelas berikutnya atau membantu saya mengurus beberapa dokumen yang perlu diurus seperti TFN, WWC, dan sebagainya.
Waktu di sekolah dibagi-bagi dan disebut period, dengan kata lain di Indonesia disebut jam pelajaran. Setiap periodnya terdiri dari 45 menit kecuali hari Selasa, setiap periodnya terdiri dari 40 menit. Period satu dimulai jam 9 pagi. Biasanya, 5 menit sebelum waktu period bel berbunyi untuk mengingatkan guru-guru untuk segera masuk kelas sebelum siswa berada di kelas. Setelah period ke-3 usai, para siswa dan para guru bisa menikmat recess time yakni waktu istirahat singkat selama 20 menit. Di saat reses ini, beberapa guru berkumpul di ruangan pantry para staf untuk sarapan atau menyantap makanan ringan yang mereka bawa masing-masing. Jam 11 lewat 25 menit warning bell  berbunyi. Lima menit kemudian, bell berikutnya berbunyi pertanda period 4 dimulai. Jam 12 lewat 55 menit, para guru dan para siswa kecuali kelas 11 bisa menikmati istirahat makan siang hingga jam 2 lewat 5 menit. Sedangkan para siswa kelas 11 baru boleh beristirahat makan siang jam 1 lewat 20 hingga jam 2 lewat 3 menit. Sekolah berakhir jam 3 lewat 25 menit. Para siswa boleh langsung pulang dengan bis sekolah atau berjalan kaki atau kendaraan masing-masing. Para guru pun demikian kecuali hari Senin dan Selasa. Pada hari Senin dan Selasa, ada rapat setelah jam sekolah. Paling sebentar rapat berlangsung hingga jam 4. Paling lama rapat bisa berlangsung hingga jam 5 sore.
Selain mengajar, guru-guru memiliki tugas yang disebut yard duty yakni tugas untuk berjaga di sekitar school yard yang ditentukan agar tidak ada kejadian yang tak diinginkan. LO saya bertugas di hari Jum’at setiap jam makan siang kelas 11. Saya ikut bertugas bersamanya. Kami harus mengenakan selendang orange dan topi. Tugasnya adalah memeriksa ruangan kelas agar bersih dari siswa karena siswa tidak dibolehkan berada di dalam gedung sekolah ketika jam istirahat baik reses maupun makan siang. Selain itu, tugasnya adalah berkeliling di sekitar halaman sekolah yang ditentukan berjaga agar tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Kejadian tersebut misalnya anak-anak yang mengganggu sarang lebah di pohon, anak-anak yang bertengkar, anak-anak yang tidak memakai topi di cuaca yang panas, dan sebagainya. Ada peraturan di sekolah ini bahwa jika anak-anak yakni siswa-siswa tidak mengenakan topi di luar gedung sekolah saat istirahat, mereka harus berjalan atau berada di tempat teduh.

Rabu, 20 Maret 2013

Hari Pertama di Wedderburn


                Hari Minggu tanggal 3 Maret, saya berangkat dengan semua barang bawaan saya, termasuk berkilo-kilo daging halal yang dibelikan LO saya, ke sebuah kota kecil sekitar 80 kilometer dari Bendigo. LO saya mengantar saya dengan mobil sedan putih milik sekolah. Kami melalui jalan tol yang mereka bilang “highway” yang tidak bergerbang. Maksudnya, tol di sini tidak seperti jalan-jalan tol di Indonesia dimana kita harus masuk melalui gerbang tol, mengambil karcis dan kemudian membayar di gerbang keluar. Dengan kata lain, mereka tidak perlu mengambil karcis dan membayar tol di sini.
                Setelah melewati kota kecil Inglewood, kemudian padang luas yang mereka katakan paddic atau farm, dan juga suatu wilayah yang membuat saya geli yakni lembah yang dinamai Korong Vale, kamipun tiba di Wedderburn. Kami berhenti di depan sebuah café untuk bertemu dengan kepala sekolah dan menyantap makan siang bersama. Kami semua, setelah saling menyapa di kafe, menuju food display untuk memesan makanan. Kepala sekolah memperkenalkan saya pada satu-satunya penjaga kafe di kafe itu. Setelah itu, LO saya bertanya tentang makanan yang halal. Alhamdulillah, ada pizza vegetarian yang bisa menjadi pilihan saya. Meskipun hanya ada sepotong pizza dengan sudut sekitar 70o, saya merasa cukup siang itu. Karena saya merasa dingin, ditambah café tersebut menggunakan AC, saya memesan hot chocolate untuk saya minum sementara kepala sekolah dan LO saya memesan minuman dingin. Hihi, kata mereka mungkin, saya aneh sekali selain karena merasa dingin tapi juga karena pakaian yang saya pakai: hijab.
                Dari kafe, kami menuju sekolah yakni Wedderburn College yang jaraknya seperti dari Stasiun kereta Bandung ke Istana Plaza di jalan Pajajaran Bandung. Namun, sebenarnya lebih dekat dari itu. Di sekolah, saya diajak tour keliling sekolah yang luasnya sekitar setengah dari luas SMKN 1 Cimahi atau seluas masjid Al-Furqon ditambah BPU dan halamannya, mungkin. Fotonya mungkin bisa dilihat di website. Saya diajak melihat setiap ruangan yang ada di sekolah termasuk ruangan staff dimana ada meja-meja berjajar yang merupakan meja kerja guru-guru. Kepala sekolah dan LO menunjukkan meja kerja saya yang posisinya dekat dengan meja LO saya, tentu saja. Ruangan staff yang lain yakni ruangan dengan meja makan besar dan kursi-kursi, sofa, kitchen set, lemari pendingin, beberapa microwave, bread baker, water dispenser, dan sebagainya, juga ditunjukkan. Amazing kan! Jadi jika waktu recess atau lunch tiba, seringkali kami berkumpul di ruangan itu.
                Setelah saya melihat semua ruangan yang ada di sekolah, saya diantar ke lapangan olahraga indoor dan outdoor. Lalu, saya pun diantar masuk ke dalam kebun sekolah yang kecil tapi terdapat beberapa tanaman termasuk mentimun besar yang saya boleh bawa pulang. Asyik!
                Dari sekolah yang berada di  15 Hospital street, kami menuju ke 1 Hospital street yakni rumah sakit yang sejak 5 tahun yang lalu telah menjadi rumah sekaligus penginapan (guest  house). Di rumah ini, tinggallah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah (Dad) yang bekerja sebagai builder di Wedderburn, ibu (Mommy) yang merupakan ibu rumah tangga yang sibuk yang juga bekerja di kantor di Wedderburn, anak perempuan yang bekerja sebagai guru dan tinggal di kota Swanhill, anak laki-laki yang bekerja sebagai baker dan tinggal di kota Bendigo, anak laki-laki yang baru saja selesai sekolah di Wedderburn College dan kini bekerja sebagai builder juga atlet Australian Football atau Cricket, serta anak perempuan yang masih sekolah di tahun ke-7 yakni kelas 1 smp di Wedderburn College.
                Saya dan LO saya masuk ke dalam rumah. LO saya pikir, karena ini adalah guest house, orang bisa langsung masuk saja. Ternyata sebenarnya tidak demikian walaupun ketika kami masuk melewati pintu pertama, kami tiba di ruangan sekitar 2,5 x 2,5 m2 yang hanya terdapat sebuah lemari, cermin, pot tempat payung, dan meja dan kami perlu melewati pintu berikutnya untuk sampai di ruangan utama yakni ruangan keluarga rumah tersebut. Orang Sunda bilang, “blong blang” ketika masuk melewati pintu kedua karena antara ruangan keluarga atau ruang TV, ruang makan dan juga dapur tidak ada tembok yang memisahkan.
                Setelah menyapa dan bekenalan dengan pemilik rumah, saya dipersilahkan masuk ke dalam kamar yang akan saya tempati yang letaknya di bagian belakang rumah sejajar dengan dapur. Kamarnya lebih luas dari kamar saya. Sepertinya 2,5 kali lebih luas. Di dalam kamar tersebut, lantainya berbalut karpet tebal dan di atanya terdapat sebuah tempat tidur dengan kasur yang tebal, seprai, selembar kain putih yang lain, 2 lembar selimut, dan selembar quilt. Di atas kasur itu terdapat 5 buah bantal. Dua di antaranya bersarung putih, tiga lainnya berwarna dan berpola yang sesuai dengan warna selimut tebal dan quilt yang ada. Di kedua sisi tempat tidurnya terdapat meja kecil. Di atas satu meja terdapat lampu meja. Di atas meja yang lain terdapat radio sekaligus jam dan alarm. Tepat di depan tempat tidur terdapat pintu yang menghubungkan saya dengan wastafel yang pastinya terdapat cermin di atasnya. Di satu sisi wastafel merupakan ruangan berpintu yang terdapat toilet di dalamnya. Di sisi yang lain, terdapat shower serta tirai panjang yang menutupi. Oh ya, di sekitar wastafel, disediakan tempat sabun cair keramik beserta isinya, tempat sikat gigi yang terbuat dari keramik, dan sebagainya. Selain tempat tidur dan meja di kamar tidur, ada juga lemari untuk pakaian dan lemari berlaci banyak yang di atasnya terdapat sebuah TV dan DVD player. Tambah lagi, AC yang terpasang di atas TV. Jendela kamarnya pun OK karena langsung menghadap ke luar, ke jalan yang berada di sebelah kiri rumah. Keren sekali kan kamarnya!  
                Sudah keren kamarnya, keren juga fasilitas lainnya! Untuk keluar dari kamar tadi saya perlu melewati dua pintu: pintu kamar dan pintu yang memisahkan kamar-kamar dengan ruangan utama yang terdiri dari ruang keluarga dan sebagainya tadi. Di depan kamar di lorong di antara pintu satu dan lainnya, disimpan lemari es kecil khusus untuk saya. Makan pagi tinggal makan semaunya: mau makan sereal, atau apapun boleh. Makan siang juga demikian, tapi biasanya saya memasak sendiri atau memakan makanan sisa tadi malam. Di malam hari, terkadang saya memasak sendiri terkadang nyonya rumah yang memasak untuk semua. Jika makanan yang dimasak oleh nyonya rumah itu halal, itu berarti untuk semua. Namun, jika yang dimasak itu tidak halal, itu berarti untuk semua kecuali saya. Selain makanan utama, buah-buahan, susu, dessert pun boleh saya santap. Mesin cuci, vacuum cleaner, sepeda, boleh saya gunakan. Keren pokoknya! Baik sekali sih pemilik rumahnya!
                OK, setelah pemilik rumah menjelaskan mengenai kamar saya, kami berbincang sebentar bersama LO saya di ruang makan. Beberapa saat kemudian, setelah kepala sekolah datang dan melihat kamar saya, LO dan kepala sekolah saya pun pergi meninggalkan saya di rumah itu.
                Lalu saya masuk ke kamar yang kini jadi kamar saya sementara. Saya pun beristirahat alias tidur siang.

Ketika sore menjelang, sekitar jam 5, karena merasa lapar, sayapun keluar kamar. Nyonya pemilik rumah sedang menyiapkan makan malam rupanya. Kalau tidak salah ingat, saya menawarkan membantu tapi katanya tidak perlu. Jadi, saya duduk di ruang makan. Beberapa saat kemudian,  beberapa anggota keluarga pemilik rumah, berdatangan. Pertama, anak bungsunya yang perempuan pulang, sayapun lalu diperkenalkan. Selanjutnya, setelah agak lebih sore, kepala keluarga pun pulang. Lalu, anak ke-3 yakni laki-laki berumur 18 tahun.
Setelah makan malam siap dan meja sudah di-set, kami makan malam bersama. Kalau tidak salah, kami makan sayur rebus/kukus, kentang yang dihaluskan, dan daging ayam halal yang dibeli di butcher di Wedderburn.  Beberapa lama setelah makan, saya pamit untuk masuk ke kamar saya. Merekapun mengucapkan selamat malam atau good night.

                                                                           Kamar kosku

                                                         Ruangan utama rumah kos. 

Berdua saja di rumah malam ini

20 Maret 2013 pukul 9 malam waktu Australia (Victoria)

Sekarang jam 9 an malam di Wedderburn, Victoria, Australia. Malam ini, di rumah yang besar bekas rumah sakit ini, hanya ada saya dan anak bungsu pemilik rumah yakni anak perempuan berumur sekitar 12 tahun. Nyonya pemilik rumah sedang dalam perjalanan menuju Melbourne untuk mengikuti pelatihan pada esok harinya. Tuan pemilik rumah dan anak ketiganya masih dalam perjalanan dari Bendigo.

Setelah menunaikan sholat maghrib dan bertadarus Quran tadi, saya mendengar teriakan anak remaja beberapa kali. Saya pikir mungkin itu teriakan sorak sorai di lapangan olahraga yang tidak jauh dari rumah ini. Em, namun setelah beberapa kali saya mendengar, saya jadi khawatir. Bukan hantu yang saya khawatirkan melainkan seseorang yang meminta tolong dari hutan tidak jauh di belakang rumah. Saya pun segera keluar kamar, memastikan anak pemilik rumah tidak di luar sana. Lalu saya tanyakan padanya apakah dia mendengar suara tersebut. Namun, dia menjawab tidak. Sayapun bertanya lagi karena barangkali tadi saya tidak bertanya dengan jelas, dia jawab tidak. Ah! Tidak mungkin suara hantu! Bisa saja dia tidak mendengar karena dia sedang berada di kamarnya yang berada di bagian depan rumah. Sedangkan kamar saya berada di bagian belakang rumah. Kemudian dia pun menuju jendela depan rumah dan saya mengikutinya. Lantas kemudian, dia berteriak seperti ini, "ou u u u..." melalui jendela. Tak berapa lama, suara yang sejak tadi saya dengar beberapa kali terdengar kembali membalas sahutan anak pemilik rumah. Oh oh, ternyata, kata anak pemilik rumah, suara teriakan yang saya dengar adalah suara anak-anak yang sedang berjalan di gelapnya malam. Sepertinya sih gelap, tidak ada lampu jalan, karena kami tidak bisa melihat apa-apa di luar jendela sana. Oh, dan ternyata begitu ya cara berkomunikasi remaja di sini. Dengan memberikan teriakan, teriakan pula yang didapatkan. Jadi saya tahu suara apa itu.

Selasa, 12 Maret 2013

This year is the opposite year for me

Penonton setia acara Spongebob Squarepants atau penonton TV yang secara tidak sengaja menonton tayangan tersebut mungkin mengetahui bahwa di Bikini Bottom tempat Spongebob dan kawan pink-nya tinggal, Spongebob dan kawan-kawan memiliki hari kebalikan.

Mungkin mereka hanya mengalami segala hal terbalik dalam satu hari saja tapi tidak dengan saya. Saya akan menyaksikan atau mengalami banyak hal terbalik sepanjang tahun ini. Itu karena saya sekarang hingga akhir tahun ini tinggal di Australia, di Wedderburn, Victoria.

Masih melekat dalam ingatn saya, bbrp hr yg lalu, di hari ketiga saya berada di Wedderburn yang merupakan hari kedua saya pergi bekerja ke sekolah, saya bersama anak bungsu pemilik rumah berangkat bersama ke sekolah. Pintu depan paling luar saat itu belum dibuka. Sebelum kami berjalan keluar melalui pintu itu, dengan inisiatif saya mencoba membuka kuncinya dengan memutarnya ke arah kiri. Namun. Yang terjadi adalah pintu itu masih terkunci!

Lalu, perihal cara makan, orang-orang memasukkan makanan dengan tangan kirinya. Ya, hal ini saya perhatikan terutama dari keluarga di rumah tempat saya tinggal. Sebelum makan, meja biasanya ditata dengan garpu, pisau, gelas, botol berisi air minum, dsb. Yang saya lihat adalah posisi garpu yang berada di sebelah kiri. Ya, hal ini bukanlah hal yang aneh bagi saya yang beberapa kali melihat hal serupa di TV dan pernah mengikuti acara table manner ala barat. Ketika makan dimulai, tanpa rasa malu saya menukar posisi garpu dan pisau di depan saya sehingga saya tetap makan dengan tangan kanan. Itu saya lakukan karena saya ingin menjadi hamba Allah yang baik dan pengikut Rasulullah SAW yang baik dengan mengikuti salah satu sunnah Rasulullah yakni makan dengan tangan kanan. Hehe.

Hari Sabtu lalu, ada semacam pasar kaget di sekitar Jacka Park (saya tidak yakin ejaannya benar). Setelah menyetrika beberapa baju, saya berjalan kesana yang tidak begitu jauh dari rumah (secara ini kota yang sangat kecil seperti satu kelurahan). Sepanjang saya berjalan, ada beberapa mobil melintas. Kalau boleh GR ya, beberapa pengemudi mobil-mobil itu memperhatikan saya ketika mereka berlalu. Mungkin dalam pikiran mereka, "Siapa ini? Aneh sekali di hari yang sangat panas memakai pakaian tertutup dari ujung rambut hingga ujung kaki" Hingga akhirnya saya tiba di taman, orang-orang di parkiran memperhatikan saya yang dengan PD nya melenggang mencari ibu kos yang menggelar lapak di pasar kaget itu. Aduh, saya merasa seperti bule yang datang ke Garut. Biasanya kalau di Indonesia kan saya yang suka memperhatikan 'bule-bule' yang datang ke kota atau desa. Hari itu, eh saya yang jadi 'bule'-nya. Terbalik bukan?!

Kemudian, hari ini ketika membantu ibu kos menyiapkan makan malam, saya mengupas wortel dari arah luar ke dalam (ke arah saya). Padahal, kalau di Indonesia, saya mengupas buah atau sayur dari arah dalam ke luar.

Dan beberapa hal lagi yang berkebalikan dengan saya...

Minggu, 10 Maret 2013

Bendigo: to the city and the farm


(2 Maret 2013)


Malam di sini, ditunjukkan oleh jarum jam di jam dinding. Kalau tidak salah, jam dinding menunjukkan pukul 7, padahal matahari belum terbenam. Waktunya makan malam, asyik aku bisa merasakan makan malam ala orang Australia bersama keluarga Australia. Malam itu, anak laki-laki yang bertugas set-up meja makan: menyimpan garpu, piring, dan pisau di atas meja, lalu gelas dan botol air di tengah-tengah meja. Setelah meja makan siap dengan peralatan makan, anak perempuan bertanya pada bapaknya apakah dia bisa duduk di sebelah saya. Oh,  so sweet! I love these kids. They are nice. Lalu bapaknya menjelaskan kepada saya, dan saya pun mengiyakan.
Kamipun kemudian makan malam bersama. Saya duduk di sebelah anak perempuan itu. Malam itu, kami makan ayam panggang bagian paha, sayuran rebus seperti kacang panjang dan labu kuning. Kalau boleh jujur, makanannya not as tasty as Indonesian foods alias tidak berasa asin atau gimana. Alhamdulillah, LO saya mempunyai sambal indofood sehingga bisa saya tambahkan ke dalam makanan saya. Dengan demikian, saya bisa menikmati makan malam dengan enak dan bisa menghabiskan sepiring makanan yang disediakan. Makan malam kami nikmati hingga waktu menunjukkan hampir pukul 8. Saat itu, saya bertanya jam berapa biasanya orang Australia tidur. LO sayapun menjawab bahwa anak-anak biasanya tidur jam 8 dan orang dewasa sekitar jam 9. Oh, hampir sama. Sayapun akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar saya dan tidur setelah sikat gigi dan mencuci muka.
Oh, ternyata saya lelah sekali. Saya tidur hampir 12 jam. Saya bangun setelah jam 8 pagi. Saya tetap tidur ketika di pagi hari sekali sekitar jam 6, saya mendengar seseorang telah bangun dari tidurnya, yang ternyata anak laki-laki itu. Saya sedang tidak sholat hari itu dan juga LO saya kemarin memberitahu saya bahwa saya bisa tidur lama hingga jam 9 an karena tidak ada begitu banyak agenda di hari itu.
Setelah saya bangun, saya langsung bersiap mandi. Ketika keluar, LO saya menyapa saya, “Good morning, Restri? Did you have nice sleep?” Saya jawab, “Morning. Yes, sorry I am too sleepy so I sleep long time.”  Dan sedikit percakapan tambahan. Aduh, saya berbicara bahasa Inggrisnya belepotan.
Setelah mandi dan bersiap saya dan LO saya berangkat menuju pusat kota untuk mengirimkan formulir WWC dan TFN. Namun, ketika tiba di kantor pos lewat dari jam 11, petugas di kantor pos berkata bahwa mereka bisa melakukannya sebelum jam 11. Dan lagi, hari itu, sabtu, mereka buka hingga pukul 12 siang saja. Oleh karena itu, saya hanya minta difoto saja di kantor pos tersebut. Hah! Ternyata kita bisa difoto, pas foto, di kantor pos! Tidak ada studio foto gitu di sini?  Hehe.
Setelah itu, kami mampir di Op shop karena saya ingin membeli sweater dengan harga murah. Saya pun membeli sweater hitam panjang seharga sekitar 78 dolar Australia. Lalu, kami pun pulang ke rumah. Sudah waktunya makan siang sebenarnya tapi kami tanpa makan siang, saya, LO, pasangannya serta anak-anak pergi ke pusat kota. Setelah memarkirkan mobil di pusat kota, kami berjalan menyusuri took-toko menuju Rosalind Park. Kami berjalan hingga ke bukit dan kami menaiki tower yang ada di sana. Melihat sekililing Bendigo begitu beda namun indah.
Mengingat pesan dosen bahwa kita tidak bisa sembarang mengambil foto, saya bertanya pada LO saya, “Can I take a picture?” Iapun mengiyakan. Kemudian saya mengambil beberapa foto pemandangan. Em, sebenarnya saya ingin mengambil foto saya sendiri, tapi malu. Lalu, yeh, pasangan LO saya berkata pada LO saya barangkali saya ingin bantuan untuk mengambil foto saya. Akhirnya, LO saya pun mengambilkan foto saya dengan background pemandangan bendigo dengan HP saya.
Setelah itu, kami turun dari tower dan berjalan menuju tempat kami memarkirkan mobil. Oh! Ada orang berpenampilan superman. Wow! Tunggu dulu! Orang itu hanya memakai celana dalam merah dan sayap merah sedangkan seluruh tubuhnya dicat warna biru. Ih!
Ok, lanjut lagi. Setelah LO saya membeli makanan untuk makan siang kami, kami melaju menuju Weroona Lake. Kami menikmati makan siang kami bersama di bangku dan meja di pinggir danau. Siang itu kami memakan makanan ala Turki: roti Turki yang besar dengan 3 jenis selai asin di masing-masing container (baca: misting) nya. Ternyata, di suatu tempat di pinggir danau, akan diselenggarakan wedding. Setelah selesai makan, sambil menunggu acara wedding mulai, saya bermain bersama anak-anak. Yang paling antusias dan paling mengikuti permainan adalah anak laki-laki. Kami, saat itu, bermain lempar ranting. Masing-masing kami memegang 2 batang ranting kecil. Yang satu untuk memukul ranting lain. Yang satu untuk dipukul. Semakin jauh ranting yang dipukul terlempar, semakin bagus dan itu artinya menang. Setelah beberapa lama bermain, kami berjalan-jalan mengelilingi danau. Namun, ketika kami melihat wedding akan segera berlangsung, kami segera berjalan memutar arah menuju ke sisi danau dimana wedding diselenggarakan.
Memang bukan hal yang aneh, acara pernikahan seringkali saya saksikan dengan langsung di Indonesia tapi dengan budaya Islam. Menyaksikan acara pernikahan budaya barat pun sebenarnya tidak aneh karena beberapa kali dapat disaksikan di film-film hollywood atau beritanya. Meskipun demikian, ini baru pertama kalinya bagi saya menyaksikan acara pernikahan gaya barat secara live, langsung..well ga ada yang aneh, hehe.
Setelah beberapa lama, LO saya mengajak saya untuk meninggalkan acara itu dan menghampiri anak-anak yang menunggu beberapa meter dari kami. Kemudian kami beserta anak-anak, masuk ke playing ground yang masih berada di sekitar danau. Senang, melihat anak perempuan yang bersama kami tertawa gembira karena diayunkan dengan keras oleh ayahnya di ayunan. Namun, dia jadi menangis ketika ayahnya memutuskan agar kami meninggalkan tempat itu.
Kami berjalan menyusuri sisi danau lagi untuk sampai ke tempat parkir. Sepanjang jalan kami, kami memandangi danau yang di permukaannya terdapat beberapa bebek kecil dan seekor angsa. Kami juga melihat hidung kura-kura yang muncul di permukaan air danau. Anak laki-laki meminta saya memperhatikan bebek kecil yang menyelam ke dalam air untuk mengambil makanan di dalam. Saya coba menghitung berapa lama bebek itu di dalam air. Ternyata, bebek tersebut berada di dalam air selama sekitar 10 hitungan lambat atau 10 detik.
Dari danau, kami menuju rumah kembali. Di rumah, setelah saya membereskan koper, tas jinjing, dan tas gendong saya, kami berangkat menuju rumah orang tua pasangannya di farm. Asyik! Saya bisa merasakan tinggal di farm.
Beberapa lama kemudian, kami tiba di farm. Karena pintu depan rumah di kunci, kami jalan ke belakang rumah untuk dapat masuk ke dalam rumah. Aduh! Ternyata mereka punya anjing buldog kecil, tiga lagi! Oh ya, LO saya juga mempunyai anjing besar seperti Scooby Doo tapi dia menempatkan anjingnya di belakang rumah dan tak membiarkannya masuk ke dalam rumah. Ok, kembali lagi. Anjing-anjing buldog kecil tadi berusaha untuk mendekati saya. Oh, tidak! Saya pun dengan segera bereaksi, mundur untuk menghindari mereka. Untung yang punya anjing dan yang lain segera bertindak, menyuruh mereka pergi. Setelah diijinkan masuk rumah, sayapun segera masuk rumah.
Wah! Rumahnya bagus. Dapurnya, ruang tamunya, kamar mandinya, kamar tidurnya bagus semua. Saya senang kali ini karena alhamdulillah semua kamarnya bisa dikunci. Kamar mandi dan toiletnya juga bisa dikunci!
Saya dibiarkan untuk tidur di kamar yang bagus sekali. Mereka bilang itu adalah princess room. Oh, indeed! Karena bagus sekali kamarnya.
Setelah beberapa menit duduk di kasur yang sangat nyaman, anak laki-laki datang menghampiri. Dia memberitahukan saya bahwa ada burung di suatu tempat. Entahlah, saya tidak bisa benar-benar mengerti perkataannya. Namun, ketika dia mengulangi lagi perkataannya, saya yakin dia ingin sekali saya melihatnya. Saya pun ikut bersamanya ke ruangan laundry dimana disitu ada mesin cuci, tentunya, dan peralatan mencuci, mungkin, di dalam lemari, dan juga sebuah sangkar burung beserta burungnya.
Anak laki-laki itu senang sekali mengganggu burung tersebut sehingga burung tersebut terbang kesana kemari di dalam ruang laundry. Setiap kali burung itu terbang, kami dengan serunya tiarap. Setelah beberapa lama, anak perempuan bergabung dan kami semua sambil tertawa, tiarap setiap kali burung terbang berkeliling di atas kami di ruang laudry yang sempit kira-kira 2,5 x 3 m2.
Beberapa menit kemudian, saya, LO saya dan pasangannya meninggalkan farm menuju ke suatu tempat seperti aula atau auditorium yang biasanya digunakan untuk pameran atau sejenisnya. Malam itu, kami kesana dalam rangka menghadiri acara lelang amal untuk membantu suami dari salah satu guru di Wedderburn college yang mengalami kecelakaan bersepeda dan harus dirawat selama berbulan-bulan.
Sudah banyak orang yang hadir di dalam ruangan itu. Ada banyak meja-meja bundar dikelilingi kursi-kursi, panggung, barang-barang yang dilelang dari mulai kaos olahraga bertanda tangan atlet ternama sampai crane penggali, dan sebagainya.
Keesokan pagi, meskipun merasakan kantuk berat, saya bersemangat untuk bangun dan mandi untuk berjalan-jalan di sekitar farm dan melihat kangguru yang hanya keluar ketika langit dan udara tidak panas. Setelah bersiap saya segera keluar dan berkata, “Can I have a walk around this farm?” mereka langsung mengiyakan.
Setelah memastikan bahwa anjing-anjing buldog itu tidak berkeliaran di luar tapi diam di kandang, saya keluar dan berjalan mendekati ladang luas terhampar dimana ada beberapa kangguru sedang menyantap sarapan pagi. Mengetahui saya berada di balik pagar yang membatasi saya dan mereka, mereka tidak melanjutkan makan mereka. Mereka terus memperhatikan saya karena sepertinya mereka merasa terancam dengan kehadiran saya. Karena bosan hanya diam dan memandangi mereka, saya berjalan ke arah lain menuju ke dalam hutan. Kangguru yang mengetahui kedatangan saya, segera berlari meloncat-loncat masuk ke dalam hutan lebih dalam sehingga saya tidak bisa melihat mereka dari dekat. Hutannya tidak begitu menakutkan, mungkin karena saya pernah berjalan di hutan di atas gunung malam-malam hanya bertiga sewaktu saya masih menjadi anggota pramuka di SLTA. Lagipula, ketika saya jalan di hutan di sekitar farm, waktunya masih pagi, dan hutannya tidak begitu lebat dengan pohon-pohon.
Well, setelah mengambil beberapa foto diri sendiri dan merekam sebentar burung-burung berkicau, saya berjalan keluar dari hutan. Ketika saya telah dekat rumah, anjing buldog menghampiri saya dengan gembiranya tapi saya tidak gembira! Saya mundur dan mundur seiring anjing itu mendekati saya maju dan maju. Saya pun sambil berteriak agar orang menjauhkan anjing itu dari saya. Dan anak-anak kemudian menjauhkannya dari saya. Hem, saya merasa sedikit tidak enak sebenarnya karena hal ini, tidak suka anjing, adalah hal yang aneh di sini. Saya juga sedikit merasa tidak enak pada anjing itu. Sebenarnya, dia baik dan hanya ingin mengenal saya, hehe, tapi saya tidak mau.
 Saya berjalan ke bagian belakang rumah untuk masuk. Aduh! Masih ada anjing yang lain! Saya pun segera masuk ke dalam rumah melalui dapur. Uhh!
Saya ditawari sarapan, ya tentu saja saya terima karena saya sangat lapar. Saya hampir tidak bisa melewatkan sarapan pagi karena sarapan pagi sangatlah penting. Saya dibuatkan roti bakar dengan selai apricot, homemade. Aduh! Saya tidak tahu saat itu kalau roti tawar bisa juga mengandung zat yang tidak halal. Saya baru tahu hal itu setelah beberapa hari di Australia dan saya membaca komposisi yang terdapat dalam roti tawar. Komposisi yang meragukan itu adalah emulsifier E471.
Setelah sarapan, saya meyiapkan barang-barang saya untuk pergi lagi, ke rumah LO saya dulu, lalu ke Wedderburn, kota (suburb) dimana Wedderburn college berada.
Foto Pemandangan kota Bendigo dari atas tower di Rosalind Park. 

Ada yang lucu, dasar anak kecil, hehehe


(1 Maret 2013)

Oh ya, ketika di pusat kota Bendigo, saya dan LO saya menyempatkan berbelanja beberapa bahan makanan. Melihat ada sayuran campur seperti kol putih, kol ungu, dan yang lainnya terbungkus telah diiris, saya jadi ingat bala-bala. Saya pun bertanya pada LO saya apakah saya bisa membuat bala-bala di rumahnya nanti. Diapun mengiyakan dan mengijinkan saya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bala-bala.
Sampai di rumah, setelah beberapa lama, anak-anak datang. Satu di antaranya adalah anak laki-laki berumur sekitar 11 tahun. Satu lagi, anak perempuan yang lebih muda berumur sekitar 6 tahun. Anak laki-laki tersebut begitu sopan, baik, dan lucu. Ketika masuk rumah, dia langsung menyapaku, “Hi, Restri” sambil tersenyum. Ih lucunya. Lalu saya membalas sapanya dan bertanya dimana adiknya. Diapun menjawab sambil tersenyum. Kemudian, masuklah anak perempuan yang dimaksud. Dia sepertinya pemalu sehingga dia tidak menyapaku duluan. Oleh karenanya, saya menyapanya terlebih dulu.
Waktu menunjukkan pukul berapa gitu di sore hari kalau di Indonesia. LO saya mulai memasak. Karena tahu saya makan yang halal. LO saya memasak daging ayam yang dibeli di sebuah butcher di Bendigo dan berlabel halal. Saya pun membuat bala-bala dengan bahan-bahan yang ada. Umm, saya, untuk pertama kalinya, menggunakan garam dan merica dengan suatu alat yang mengharuskanmu memutar-mutarnya agar garam dan mericanya bubuk dan keluar. Sudah beberapa kali saya tambahkan garam ke adonan bala-bala saya, tapi tetap tidak terasa asin. Setelah adonan digoreng dengan minyak, bukan minyak kelapa, jadilah beberapa buah bala-bala, cukup banyak ternyata. LO saya mencobanya dan dia bilang enak, entah apakah dia benar-benar merasa itu enak. Pasangannya pun makan, begitu juga anak laki-lakinya. Tapi tidak dengan anak perempuan yang tidak suka sayur ini.
Setelah beberapa lama, karena makan malam belum siap, anak-anak meminta saya melihat dan masuk ke kamar mereka. Mereka bilang, “Can I show you my room?” Saya bilang, “Pardon.” Karena saya tidak terlalu bisa menangkap perkataan mereka dengan lafal yang kurang jelas. Setelah dijelaskan LO saya, sayapun mengiyakan. Lalu, sayapun masuk ke dalam kamar mereka. Mereka langsung begerak menunjukkan mainan-mainan yang mereka punya. Saya merasa senang saja meskipun masih merasa lelah karena perjalanan panjang dari Indonesia ke Australia. Karena senang, saya senyum-senyum saja dengan semua yang mereka katakan dan tunjukkan. Suatu waktu saya jadi tertawa dan LO saya yang mengintip sebentar pun tertawa ketika anak laki-laki menunjukkan kertas berbentuk orang yang berlipat-lipat banyak dan bertanya, “Do you have paper?” Dengan jelas sambil tersenyum, “Yes, of course, I have paper. There is paper in Indonesia.”