Tampilkan postingan dengan label australia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label australia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2018

How to Get There


            Cara ke Sana

            Setelah aku dan rekanku terpilih, kami diminta untuk mengurus keberangkatan kami. Seingat aku, itu dimulai di bulan November 2012. Dan sejak itu pula, kami dikontak oleh pihak Australia terutama yang menangani program guru bantu yakni Clinton dan Jennifer DEECD (Department of Education and Early Childhood Department).
            Tertanggal 26 November 2012, Clinton mengirimkan beberapa dokumen seperti panduan guru bantu (LAP guidelines), panduan informasi umum untuk peserta luar negri (General information guide for overseas participants), panduan sebelum keberangkatan dan kedatangan (Pre-departure and arrival guide), dan informasi untuk mengajukan visa. Aku pun dikirimi surat undangan yang nantinya diperlukan untuk mengajukan visa.
Kepergian kami ini melibatkan dua negera: Indonesia dan Australia dalam bingkai kerja sama program guru bantu yang bernama Victoria Second Language Assistant Program. Oleh karena itu, beberapa dokumen perlu disiapkan dan dibawa. Tentu saja, dalam hal ini kami dibantu pihak kampus terutam OIER (Office of International Education and Relations) UPI.
            Beberapa dokumen yang perlu kami siapkan di antaranya biodata termasuk personal statement, surat tugas dari UPI, lembar aplikasi Visa, paspor, kartu identitas, dan ijazah serta transkrip nilai, akta lahir, kartu keluarga, surat undangan dari pihak Australia, surat pendamping visa dari sekolah tempatku di Australia, dan surat keterangan asuransi kesehatan.
            Biodata yang harus dilengkapi berdasarkan format dari program guru bantu ini termasuk personal statement yang menceritakan tentang diri sendiri dan rencana ke depan. Surat tugas disiapkan oleh pihak OIER dan kami tinggal mendapatkannya. Tertanggal 13 Desember kami mendapatkan surat tugas itu. Aplikasi visa 1416 perlu dicetak untuk diisi. Clinton memberikan informasi untuk mengisinya. Jika tidak, kami akan sungguh kebingungan.
            Aku belum pernah ke luar negri jadi passporlah sebenarnya yang pertama kali aku siapkan karena ternyata membuat paspor cukup memakan waktu. Untuk membuat paspor ini, aku harus ke kantor imigrasi di jl. PH. Mustofa Bandung., mengantri untuk difoto, mengantri untuk bayar, dan sebagainya. Hihi, ternyata untuk foto paspor ini seluruh wajah harus terlihat. Walhasil, aku yang memakai ciput topi harus menyesuaikan ciput dan kerudungku agar alis dan kening terlihat.
            Kartu identitas, ijazah, transkrip nilai, akta lahir, dan kartu keluarga perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Kami menggunakan jasa penerjemah Bu Dewi yang kantornya berada di sebrang sekolah tinggi seni di daerah Buah Batu. Kalau tidak salah ingat, biaya per dokumennya Rp 15.000.
            Surat undangan dari Clinton sudah diterima. Surat pendamping dari sekolah kuterima dari Lea, guru Bahasa Indonesia di Wedderburn College.
Asuransi kesehatan harus kami miliki untuk mengajukan visa. Oleh karena itu, kami pun mencari-cari lembaga asuransi di Australia. Setelah konsultasi beberapa orang termasuk alumni guru bantu tahun lalu, kami memilih Iman Australian Health dengan biaya per bulannya AUD76. Untuk dapat surat asuransinya kami harus membayar untuk pertama kali dan untuk itu kami membutuhan kartu kredit. Waah, aku tidak punya begitu pun orang tua atau kakak-kakakku. Akhirnya, aku meminjam kartu kredit bibiku. Tertanggal 6 Desember 2012, pengajuan asuransiku telah diterima Iman.
Semua dokumen itu diperlukan untuk aplikasi visa. Ada berbagai macam visa tergantung tujuannya. Kami membuat aplikasi visa 1416 sesuai bimbingan dari pihak Australia khususnya yang menangani proram guru bantu ini.
            Dokumen tersebut harus dalam bentuk PDF atau image agar dapat dikirim melalu email ke Hobart.Special.Program@immi.gov.au, department imigrasi dan kewarganegaraan. Selain mengirim dokumen-dokumen itu, kami juga perlu membayar sejumlah uang AUD 315 dengan kartu kredit Visa, MasterCard, AMEX atau Diners Club.
            Tertanggal 17, Hobart mengabarkan melalui email bahwa tanggal 14 Desember 2012 pengajuan visaku “was validly lodged with the Department of Immigration and Citizenship.” Aku diinformasikan untuk melakukan tes kesehatan yang hanya dapat dilakukan di klinik tertentu. Informasi tentang klinik atau dokter untuk tes kesehatan tersedia di http://www.immi.gov.au/contacts/panel-dctors. Hobart pun menginformasikan bahwa aku harus merespon email paling lambat 28 hari dari diterimanya email.
Aku pun melakukan tes kesehatan pada awal Januari di Jakarta. Alhamdulillah tidak mengantri lama. Urinku dites. Kemudian aku diperiksa dokter. Sempat berbincang dengan dokter akan kekhawatiranku. Aku sempat sakit gejala thypus di bulan desember dan masih dalam pemulihan, aku khawatir ini mempengaruhi hasil tes kesehatan dan hasil keputusan visa. Namun, dokter bilang bahwa yang dikhawatirkan Australia adalah penyakit menular seperti TBC. Lalu, aku pun menjalani X-ray. Perlu dua kali melakukannya, entah kenapa. Setelah beberapa hari dari tes, aku dihubungi klinik untuk melakukan x-ray lagi. Aku jadi khawatir apa aku kena TBC, tiba-tiba? Aku ke klinik lagi dan aku tanya kepada petugas X-ray karena aku khawatir. Alhamdulilah, orangnya baik, dia bilang akan mengabari segera tentang hasilnya. Setelah beberapa lama, sebelum aku kembali ke Bandung dia mengabarkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Alhamdulillah.
            Sejak itu, aku rajin mengecek e-mail. Namun, lama hingga waktu program SLAP dimulai, kabar dari Hobart tak kunjung datang. Aku pun harus menerima kenyataan tak bisa mengikuti pembekalan di awal Februari di Melbourne, Australia bersama language assistant lain dari Jepang dan Tiongkok.
            Beberapa hari kemudian, kabar datang dari Tya. She is granted visa! Wah, aku langsung cek inbox sampai spam tapi tak kutemukan e-mail dari Hobart. Ada apa gerangan? Entahlah, apa karena aku berjilbab? Entahlah.
            Ku tiba di penghujung Februari. Akhirnya! Tanggal 21 Februari Hobart mengirim e-mail: IMMI Grant notification. Aku dapat visa! Oh senangnya, Alhamdulillah. Aku pun segera mengabarkan orang-orang: Tya, Pak Harto (dosenku dan kepala OEIR), dan Lea.
            Lalu, aku dan Tya segera memesan tiket pesawat. Tadinya, kami ingin cari yang termurah. Namun, dosen menyarankan agar kami terbang bersama Garuda. Lebih aman, lebih nyaman. Dan Pak Harto ingin kami benar-benar sampai di Australia, ga di laut. Ih, na’udzubilah. Dipikir-pikir, tentu saja. Kami kan akan melakukan penerbangan panjang. Perlu tempat nyaman dan makanan halal. Oleh karena itu, kami merogoh kocek sekitar 1.049,20 dolar Amerika untuk tiket pergi kami berdua.
            Setelah mendapatkan e-ticket, aku dan Tya mengabarkan masing-masing LO (Liaison Officer) kami tentang penerbangan kami tentunya dengan harapan mereka akan menjemput kami.


#latepost

Pray and Mom’s Sincere Permission


            Do’a dan Ridho Ibu

            “Pendaftaran Language Assistant dibuka.” Kata Mutiara, temanku yang menjadi guru bantu di Australia tahun 2012. Ketika itu, aku tidak berpikir untuk mendaftarkan diri. Itu karena kembali ke mimpiku di awal, aku ingin kuliah S2 – yang nantinya menunjang karirku – tidak hanya ingin tinggal di luar negeri, mengasah kemampuan berbahasa Inggris, dan menambah pengetahuanku. Lagipula, aku sedang kuliah S2 di semester satu saat itu dan aku merasa tanggung jika harus meninggalkan kuliahku. Meskipun temanku itu mengatakan bahwa mengikuti program guru bantu itu sangat bermanfaat, aku tetap tak bertekad untuk mendaftarkan diri.
            Beberapa menit kemudian, ibuku menelpon memberitahukan tentang program guru bantu itu. Aku merasa sangat heran, darimana ibuku tahu tentang hal itu. Ternyata, ibu tahu dari rekan kerjanya sesama guru di sekolah yang mengetahui program ini dari kampus tempat aku kuliah S1 dulu. Aku katakan pada ibu bahwa aku tidak akan mendaftarkan diri. Namun, karena Ibu tahu bahwa aku ingin meningkatkan kemampuan di bidangku dengan cara pergi ke luar negeri, ibu mendorongku untuk mendaftarkan diri.
“Ibu ridho kalau aku pergi ke luar negeri?” tanyaku.
            “Iya.” Jawab ibu.
            “Ibu bahagia kalau aku pergi?” tanyaku lagi.
            “Iya tentu kalau kamu bahagia juga.”
            “Tidak apa-apa aku meninggalkan kuliah?”
            “Iya tidak apa-apa, barangkali dapat beasiswa di sana.”
            Berbekal niat karena Allah, aku ingin membuat ibu bahagia dan bangga padaku, akupun beranjak dari tempat dudukku dan segera berangkat ke kampus untuk mencari info pendaftaran program guru bantu. Dalam prosesnya termasuk proses seleksi, aku senantiasa ingat bahwa jika aku bisa terpilih menjadi guru bantu di Australia, ibuku akan bahagia dan merasa bangga padaku. Aku ingin ibu bahagia oleh karenanya aku berusaha agar aku dapat terpilih. Tidak hanya usaha, aku pun senantiasa berdo’a.
Robbisy rohlii shodrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatammillisaanii yafqohuu qoulii. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dalam lidahku agar mereka mengerti perkataanku” Do’aku berulang-ulang kali ketika menunggu giliran wawancara dalam proses seleksi.
Selesai wawancara, aku tidak merasa puas sampai-sampai muncul kekhawatiran bahwa aku tidak akan lolos. Peserta seleksi yang lain pun nampak bagiku lebih berpotensi terpilih. Walaupun demikian, aku sadar harus tetap optimis, tetap berharap meskipun cemas. Di perjalanan pulang dari kampus, di kala rintikan air hujan membasahiku yang mengendarai motor, aku berdo’a agar aku terpilih sehingga ibuku bahagia dan merasa bangga padaku. Akupun berdo’a berulang-ulang di salah satu waktu mustajabnya do’a itu: saat turunnya hujan.
Beberapa hari kemudian, di hari Jum'at pagi, di saat aku akan mengajar, aku mendapat sms yang berisi kabar lolosnya aku menjadi language assistant. Saat itu, betapa sangat gembiranya hatiku dicampur rasa gugup, haru, dan sebagainya tak menentu. Namun, tentunya ini sesuai harapanku dan ini merupakan kabar gembira untuk ibu, bapak, dan saudara-saudaraku.
     Semoga ini langkah yang baik yang bisa mengantarkanku mendapatkan pengalaman yang membuatku jadi lebih baik sebagai hamba Allah, sebagai guru bahasa Inggris, sebagai makhluk sosial, dan sebagainya. Aamiin.
Terwujudnya aku pergi ke Australia bisa juga karena mimpi ibuku. Ia menulis “Australia” dalam daftar harapannya yang ia tuliskan di kertas dan ia pajang di kamarnya. Mimpinya pun terwujud selama aku di sana.


#latepost

Senin, 21 Mei 2018

Some people say “don’t be afraid to dream high” in addition, I say “Dream high and strong!”


Sebagian orang berkata “Jangan takut untuk bermimpi yang tinggi” sebagai tambahan aku berkata “Mimpilah yang tinggi dan kuat!”

            Bertandang ke negeri orang sudah menjadi harapan sejak lama, sejak aku masih duduk di bangku SMK. Lalu, impian itu berkembang. Aku tidak hanya ingin bertandang tetapi belajar di sana melalui program beasiswa. Di tahun 2005, aku tuliskan mimpi itu. Mimpi bahwa aku ingin kuliah S1 jurusan Bahasa Inggris di salah satu universitas terbaik lalu mendapatkan beasiswa S2 di negeri yang orang-orangnya berbicara bahasa Inggris.
Tahun-tahun demi tahun berlalu, tak pernah aku melupakan mimpi itu. Selama itu pula, aku selalu mencari-cari kesempatan beasiswa melalui dunia maya. Namun, hingga tahun 2012, gayung tak bersambut. Aplikasi beasiswaku melalui ADS di tahun 2011 dan Fullbright di tahun 2012 belum berhasil. Padahal bagiku, seorang guru bahasa Inggris yang ingin meningkatkan kemampuan di bidangku, beasiswa ke negeri seperti Amerika, Inggris atau Australia itu sangatlah penting. Itu karena menurutku dengan tinggal di negeri itu, kemampuan bahasa Inggrisku akan berkembang, pengetahuan, dan pengalamanku pun dapat bertambah.
Keinginanku semakin kuat. Aku benar-benar merasa harus pergi ke salah satu negeri itu untuk tinggal beberapa bulan, mengasah kemampuan berbahasa Inggrisku, dan menambah pengetahuanku. Niatku pun bulat sampai-sampai bertekad untuk mengumpulkan uang sendiri atau pinjam orang tua untuk dapat mewujudkannya.
Di tahun 2013, keinginanku terwujud. Dan Allah sungguh tahu apa yang kuinginkan sehingga aku diberi kenikmatan bisa tinggal bersama orang Australia selama kurang lebih 10 bulan dan bekerja di sekolah dimana hampir semuanya adalah pembicara bahasa Inggris asli – native speakers - . Aku pun jadi tahu mengapa Allah tidak menakdirkanku mendapat beasiswa kuliah di Negara berbahasa Inggris itu. Itu karena dengan menjadi mahasiswa, belum tentu aku dapat sering berinteraksi langsung dengan native speakers. Juga, aku belum tentu mampu menjadi mahasiswa internasional yang mendapat amanah beasiswa dan dapat lulus dengan hasil memuaskan. Segala puji bagi Allah. Alhamdulillah.


#latepost

Kamis, 18 Mei 2017

Salt and Pepper

Garam dan merica nampaknya merupakan bagian dari budaya Barat. Garam dan merica selalu ada di setiap meja. Garam dan merica selalu ada di meja makan di rumah tempat tinggalku di Wedderburn, Victoria, Australia. Ketika aku berkunjung ke Echuca dan aku berjalan melewati restoran, aku melihat garam dan merica di atas meja-meja yang berada di teras.

Aku pun mengalami momen garam dan merica.

Pada malam pertama aku tinggal di rumah kosku di Wedderburn, ibu kos yang antara lain Miss Michelle memasak makanan untuk keluarga dan aku. Setelah masakan matang, miss Michelle meminta Tahlia untuk menyiapkan meja makan. Aku pikir meja sudah sial karena sudah ada garam dan dapur di meja. Namun ternyata mereka dress up the table. Tahlia menghamparkan kain merah di atas meja lalu menyimpan kembali tempat garam dan merica yang ada warna merahnya juga. Ia pun menambahkan beberapa helai kain persegi di atas taplak dimana piring akan diletakkan. Tahlia lalu bertanya pada Miss Michelle apa yang dibutuhkan: sendok dan garpu atau splade (garpu sendok), dsb. Lalu Tahlia pun mengambil garpu dan pisau dari sebuah laci di dapur dan meletakkannya di atas tepian kain persegi tadi. Gelas pun ia letakkan di sebelah kain tersebut. Sebotol air minum yang airnya dia ambil dari keran pun ia simpan dekat garam dan merica.
Miss Michelle memintaku untuk menghampirinya untuk menanyakan porsi makanku. Saat itu Miss Michelle sedang menghidangkan makanan ke piring-piring.
"Restri, is that enough?" tanyanya ketika menghidangkan untukku.
Aku tidak yakin mau jawab apa. Bagiku tampak tidak mengenyangkan satu paha ayam, sayuran rebus, dan segenggam kentang halus (mashed potato). Tapi aku pun sungkan untuk minta tambah. Aku pun menjawab, "yes, thank you."

Masakannya nampak enak. Namun, aku yang belum terbiasa dengan makanan Barat yang orisinil merasa bumbunya kurang asin. Aku ingin mengambil garam yang ada di meja tapi aku sungkan.

Namun, setelah aku melihat mereka mengambilnya dan menaburkannya di hidangan, aku pun mengambil garam dan menaburnya di makananku. Aku yang suka pedas pun menabur merica. Aku mulai makan lagi tapi rasa asin dan pedas yang biasa aku dapat di Indonesia belum terasa, aku pun menambahkan garam dan merica lagi. Tanpa disadari, Miss Michelle sekeluarga memperhatikanku.

Di malam berikutnya, Miss Michelle masih memasak makan malam untukku. Tanpa menunggu yang lain, aku langsung menaburkan garam dan merica. Karena menurut pengalaman kemarin sedikit garam dan merica tidak membuat makananku asin, aku pun menaburkan cukup banyak garam dan merica sampai- sampai,
"Maybe Restri thinks the food is not delicious." kata Miss Michelle.
Aku pun jadi tersadar, jangan-jangan aku menyinggung perasaannya.
"No, it's just ... I'm used to eat salty food, you know, in Indonesia foods are salty. This food is nice." aku menjelaskan sebisaku.

Keesokan malam, Miss Michelle masih memasak untukku. Mengingat kejadian malam kemarin, aku tidak menabur garam dan Merica ke dalam makananku. Aku pikir, aku tinggal di negeri ini dan harus bisa menyesuaikan dengan makanan di sini.
"Is it nice?" tanya Miss Michelle perihal makanannya.
"Yes." jawabku lugas sambil tersenyum. Aku menjawab sejujurnya.



Rabu, 28 September 2016

Native-like, perlukah?

Berbicara tentang ini, saya teringat pengalaman selama tinggal di Australia.

Saya cukup percaya diri untuk pergi ke dan tinggal di suatu negeri yang berbahasa Inggris seperti Australia.

Maaf bukan sombong, waktu saya SMP, saya les senin-jum'at selama hampir 1 tahun sehingga saya bisa berprestasi (mendapat nilai Bahasa Inggris yang tinggi). Bahkan, saya pernah mendapat nilai 9 di rapot dan itu adalah nilai terbesar seangkatan. Sayang, saya hanya jago teori seperti grammar, dsb. Ketika diikutkan lomba bahasa Inggris oleh guru saya, saya sudah tereliminasi di babak penyisihan 😂.

Waktu di SMK, ya saya sih merasa ilmu yang didapat semasa les masih nempel. Walhasil, nilai TOEIC saya lumayan tinggi sehingga visa ikut tes TOEIC internasional. Dasar sudah ke-PD-an jadi enggak belajar. Walhasil, nilainya turun.

Walaupun demikian, saya tetap PD dengan kemampuan Bahasa Inggris saya. Oleh Karena itu, saya kuliah di jurusan pendidikan Bahasa Inggris.

Semakin PD Karena sekali yes PTESOL, langsung memenuhi kriteria lulus. Saya pun jadi PD untuk mengejar beasiswa studi ke luar. Saya pun kemudian PD untuk mengambil tes IELTS. Alhamdulillah, hasil gadaiin emas 3 gram tidak sia-sia Karena nilai IELTS saya lumayan untuk memenuhi kriteria.

Itulah kenapa saya PD dg bahasa Inggris saya. Ya meskipun pada akhirnya tidak dapat beasiswa studi di luar, alhamdulillah tetap bisa mengalami tinggal di luar negeri. 😊

Namun, ke-PD-an saya ternyata keblinger. Suatu ketika bertemu dan berbicara dengan native speakers, mereka perlu agar saya mengulang perkataan saya atau mereka minta waktu until memahami apa yang saya katakan. Hmm, mungkin saya berbicara terlalu cepat. Nyatanya, meskipun tidak berbicara cepat, mereka perlu beradaptasi dengan Bahasa Inggris saya. Sama, saya pun 2 minggu awal tinggal di Sana merasa nge-hang, kurang mengerti apa yang mereka ucapkan. Mungkin Karena aksen mereka lebih seperti British-english sementara yang biasa saya dengar adalah American English.
Jangan-jangan mereka pun nge-hang ketika mendengar Bahasa Inggris saya dengan aksen yg antah berantah.

Mengingat itulah, saya pikir native-like (pelfalan, aksen, dsb.) perlu. Saya pun ingin anak-anak saya memiliki native-like English.

Sekian

#metime

Mau tahu biar anak dapet native-like?
Cek my IG: @restr333

Rabu, 06 Maret 2013

Australia, I'm here


Australia, I’m here (1 Maret 2013)
Alhamdulillah, saya bisa menulis/mengetik juga setelah beberapa hari di Australia dan terlalu sibuk dengan persiapan dan sebagainya.

Hari ini, Rabu malam, tanggal 6 Maret 2013, adalah hari ke enam saya berada di Australia. Dan saat ini, saya berada di Wedderburn, salah satu kota yang sangat kecil di negara bagian Victoria, Australia.

Sebelum saya menceritakan mengenai Wedderburn, saya akan menceritakan apa yang terjadi sejak saya meninggalkan rumah.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul tujuh pagi bersama ibu dan bapak saya. Sayapun tiba di kampus sekitar pukul setengah delapan. Setelah menunggu beberapa saat, saya dan Teh Tya menemui Pak Didi Sukyadi, dekan baru FPBS. Kami mendapat wejangan yang sangat bermanfaat. Beberapa di antaranya adalah bahwa kami harus menjaga jati diri kami sebagai muslim dan bangsa Indonesia: tidak perlu mengikuti apa yang mereka makan terutama yang diharamkan, tidak perlu mengikuti gaya berpakaian mereka, dsb. Kami juga diamanatkan untuk menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, universitas, dan negara. Wah! Nasihat beliau bagus. Oya, dan satu lagi, beliau bilang bahwa kami perlu menghafal lagu “watching matilda…” yang katanya merupakan lagu nasional Australia yakni lagu yang semua warga negara Australia tahu.

Setelah itu, kami bersiap kembali di Office of International Education and Relation. Keluarga kami pun turut serta menunggu hingga waktu keberangkatan kami ke bandara internasional di Jakarta. Pukul 10, saya dan Teh Tya masuk mobil kampus bersama staf OIER dan supir. Sementara itu, keluarga kami masuk ke dalam mobil masing-masing. Kami semua kemudian berangkat menuju Jakarta.

Di perjalanan, saya merekam kota Jakarta sebentar. Barangkali ada siswa bahasa Indonesia di Australia nanti ingin mengetahui bagaimana kota Jakarta. Setelah tiba di bandara, staf OEIR dan supir membantu menurunkan barang-barang saya dan Teh Tya dari mobil. Lalu, mereka pergi meninggalkan kami. Petualangan kami berdua belum mulai saat itu, keluarga kami masih menemani hingga saatnya kami harus masuk untuk check in, boarding, dan take-off.

Oh, agar nanti ketika waktunya, saya dan Teh Tya tidak terlalu ‘riweuh’, kami memutuskan untuk check-in terlebih dahulu meskipun belum ada panggilan. Jadi di terminal 2 E dan F kami masuk ke dalam gedungnya. Lalu kami masuk kembali di F1 atau F2. Ketika masuk, kami harus menyimpan segala yang kami bawa di atas papan berjalan sehingga kemudian barang-barang kami masuk ke dalam alat pemeriksaan seperti X-ray. Kami pun harus melewati suatu alat yang dapat mendeteksi logam, dsb. Setelah itu, kami menuju ke antrian untuk check-in. Kami harus check-in di loket yang tepat sesuai dengan maskapai, jenis penerbangan, dan status kami sebagai pelanggan tak tetap Garuda jadi kami mencari loket dengan tulisan Garuda international apa gitu. 

Di loket check-in kami harus menimbang barang yang hanya akan masuk bagasi yakni koper. Kami sempat khawatir jika kami akan harus membayar sejumlah uang karena kelebihan beban. Kami bertanya melalui email ke alamat dimana kami memesan tiket secara online. Mereka mengatakan bahwa kuota bagasi kami hanya 20 kg. alhamdulillah, ketika di loket, dikatakan oleh petugasnya bahwa kuota kami masing-masing adalah 30 kg. Dengan demikian, meskipun berat koper saya sekitar 26 kg, saya tidak perlu membayar sepeser uang pun. Di loket tersebut juga, kami mendapatkan kartu bagasi kami dan nomor tempat duduk kami di pesawat nanti.

Setelah itu kami lakukan, kami kembali keluar dengan membawa tas yang akan kami simpan di kabin pesawat. Kami pun menikmati waktu-waktu terakhir kami bersama keluarga di bandara. Kami mengambil foto kami dan keluarga beberapa kali di bandara. Kami makan, minum, dan berbicara dengan keluarga di bandara hingga pada suatu waktu sekitar jam 5 sore... saya mendengar nomor penerbangan kami dipanggil lengkap dengan tujuan dan waktu keberangkatan. Inilah saatnya kami masuk untuk boarding yakni untuk menunggu di ruang tunggu kemudian masuk ke pesawat beberapa menit kemudian. Kami pun pamitan dengan keluarga. Hehe, lucu atau bagaimana ya, tidak satupun baik saya maupun keluarga saya menangis ketika berpisah. Ya, mungkin karena kami semua tahu bahwa pergi ke luar negri, ke Australia, telah menjadi mimpi saya sejak lama dan kami semua bahagia mimpi saya terwujud. Yang membuat saya ingin menangis adalah ketika melihat Teh Tya dan keluarganya menangis, hehe.

Saya dan Teh Tyapun masuk melalui pintu F1. Oh iya, di sekitar loket check-in kami sempat mengambil foto kami berdua beberapa kali di tempat berbeda menggunakan front-camera di HP saya. Soalnya malu ah kalau menggunakan kamera biasa, hehe. Untuk menuju ruang tunggu, ternyata kami harus berjalan cukup jauh, ya sekitar 200 meter. Di ruang tunggu, kami melihat banyak ‘bule’. Ada tiga orang di antaranya yang berdiri tidak duduk. Dalam pikiran saya, mungkinkah tiga ‘bule’ ini orang Australia yang akan pulang ke Melbourne?

Untuk memasuki pesawat, ternyata kami harus keluar turun dari ruang tunggu lalau naik bis di sekitar lapangan terbang dimana banyak pesawat parkir. Ini adalah pengalaman pertama kami. Karena sebelumnya, sewaktu kami masing-masing melakukan penerbangan domestik, kami langsung masuk ke pesawat, tidak naik bis dahulu.

Di pesawat, para pramugrari tidak berpantomim menunjukkan prosedur keselamatan. Prosedur keselamatan itu ditunjukkan dalam video di TV kecil di setiap bagian belakang kursi. Kami tentu mematikan HP kami terutama ketika diumumkan. Sabuk keselamatan di kursi pun kami pasang ketika lampu kecil di atas di bagian bawah kabin mengisyaratkan demikian.

Wah, ini waktunya makan malam, dapat makanan tidak ya? Tanya saya dalam hati ketika pesawat sudah terbang selama sekitar satu jam sejak jam 6 sore.

Alhamdulillah, ternyata, kami semua mendapatkan makan malam di pesawat. Mengingat pengalaman saya sekitar sebulan yang lalu, sebelum melahap makanan tersebut, saya cek terlebih dahulu ingredient. Namun, tidak ada ingredient dituliskan di setiap bungkus makanannya karena hanya mentega yang dibungkus yang lain tidak. Oleh karena itu, saya tanya pramugari yang membagikan makanan, apakah makanan tersebut halal atau tidak. Setelah dia bilang ya, saya langsung makan karena saya lapar. Jadi, ini adalah pengalaman pertama kami yang lain yakni makan di pesawat. Yang kami makan saat itu adalah sepotong kecil roti dan mentega keju, nasi dengan daging sapi ditambah saus pedas, dan puding. Minumnya saat itu, saya pilih orange juice, jika tidak salah ingat, hehe.

Masih ingat pertanyaan saya mengenai tiga ‘bule’? Sepertinya jawabannya iya. Tidak kami sangka, tiga ‘bule’ tersebut duduk dua bangku di depan kami. Setelah kami tiba di Bali, mereka bertanya pada pramugari mengenai penggantian pesawat yang akan ke Melbourne. Oh, sayapun langsung memberi tahu Teh Tya untuk mengikuti tiga ‘bule’ itu.

Kemudian, kami turun dari pesawat mengikuti ‘bule-bule’ tadi. Ups, jangan terlalu dekat, nanti mereka merasa diikuti. Kamipun berjalan dengan menjaga jarak tetapi tetap memusatkan perhatian pada mereka.
Kamipun tiba di loket keberangkatan internasional. Ada hal lucu yang terjadi di sini. Karena kami melihat banyak orang yakni ‘bule-bule’ yang putih atau  yang dari Asia menulis sesuatu di Incoming passenger card, kami ikut menulis juga. Kami menulis sambil duduk di lantai. Umm, ada satu bagian yang saya tidak yakin harus menulis apa sehingga sayapun berdiri dan mendekati petugas yang terlihat seperti orang Indonesia. Ternyata, dia bilang, orang Indonesia tidak perlu menulis itu, dan orang Indonesia tidak perlu mengantri lama bersama ‘bule-bule’ karena ada loket tersendiri. Dan yang tak disangka adalah petugas itu ternyata orang sunda. Kami mengetahuinya ketika dia bertanya tujuan kami dengan bahasa sunda. Dia begitu baik dan mendo’akan agar kami menikmati perjalanan kami. Hmm, saya lupa untuk melihat atau bertanya namanya dan saya pun sepertinya sudah lupa rupa wajahnya.

Eh ketemu lagi ma tiga ‘bule’ tadi di pesawat kedua yang kini terbang menuju Melbourne. Mereka duduk di tempat yang sama yakni bangku dekat emergency exit. Sedangkan kami, yang awalnya duduk di belakang mereka, kini duduk di sebelah kiri belakang mereka. Jadi, jika di pesawat pertama kami duduk di dekat jendela dan dapat melihat sayap kanan pesawat, di pesawat kedua kami duduk di dekat jendela dan dapat melihat sayap kiri pesawat.

Cuaca tidak begitu baik tentunya di malam hari, pilot mengingatkan hal itu agar kami tetap memasang sabuk keselamatan meskipun pesawat sudah mengudara. Lampu yang mengisyaratkan sabuk keselamatan senantiasa menyala. Itu artinya tetap di bangku masing-masing dengan mengenakan sabuk keselamatan. Beberapa lama mengudara, lampu isyarat toilet menyala. Itu artinya, toilet boleh digunakan. Penumpang boleh melepaskan sabuk keselamatan dan meninggalkan bangku jika hendak ke toilet.

Aduh, saya mulai mengantuk tapi sayang jika harus tidur dan melewatkan kesempatan untuk menggunakan TV kecil yang ada di setiap bangku di pesawat. Sayapun menonton beberapa film sebentar saja yakni tidak sampai habis. Sayapun tidur beberapa lama hingga saatnya kami hampir tiba di bandara di melbourne, kami mendapatkan kartu keimmigrasian dan makanan sebagai sarapan pagi kami. Saat itu adalah makan besar karena kami mendapatkan banyak makanan. Saya makan mie goreng sea food, roti dengan 3 jenis selai, puding, dan buah-buahan. Sebagai minumannya, saya pilih teh hangat yang ternyata sangat pahit meskipun sudah ditambah sebungkus kecil gula pasir. Ketika saya melahap makanan, saya perhatikan penumpang di sekitar saya tidak memakan semua makanan. Berbeda dengan saya, saya melahap habis semua makanan, mubajir kan kalau tidak habis, hehe. Setelah makan saya dan Teh Tya mengisi kartu keimmigrasian mengenai barang-barang yang saya bawa. Jadi, di kartu itu saya harus mendeklarasikan barang terlarang yang saya bawa seperti obat-obatan, kayu, kulit, makanan, dsb. Karena saya tidak membawa barang-barang tersebut saya hanya perlu memberi tanda di kotak ‘No’.

Sekitar satu hingga satu jam setengah kemudian, pesawat mendarat di bandara internasional Tullamarine di Melbourne. Asyik! Alhamdulillah sampai juga di Melbourne, di Australia! Saya dan Teh Tya pun berjalan keluar dari pesawat mengikuti kemana penumpang lain berjalan. Lalu, kami sampai di loket immigration check. Di sana kami mengantri bersama yang lain. Aduh sebetulnnya sedikit ‘deg-deg’an. Meskipun saya tidak tidak membawa barang terlarang tapi ada sedikit kekhawatiran yang saya rasa dan juga ini adalah pengalaman pertama saya. Huh, alhamdulillah, berjalan lancar. Petugas hanya mengecek passport lalu mengijinkan saya berlalu. Setelah itu kami berjalan lagi dan bertemu petugas yang bertanya, “Do you bring …” ini itu. Karena kami sama-sama tidak membawa barang-barang terlarang, dengan lancar, lugas, dan serentak, kami menjawab, “No, No, No,…”. Lalu petugas tersebut mengijinkan kami berlalu. Kemudian, kami menunggu bagasi kami keluar untuk kami bawa. Setelah itu, kami menuju pintu keluar.

Di pintu keluar terakhir, kami harus mengantri juga. Di sana, ada petugas yang bertanya apakah kami membawa barang terlarang. Saat itu, orang di depan saya membawa sesuatu yang terlarang, saya lupa apa barangnya. Orang tersebut kemudian diminta untuk tetap tinggal untuk diperiksa. Ketika saatnya giliran saya, saya diijinkan berlalu dan keluar karena saya, seperti yang saya ceritakan, tidak membawa barang terlarang apapun.

Setelah melewati pintu keluar, kami merasa seperti artis yang keluar dari belakang panggung karena ada banyak sekali orang yang menanti di depan pintu keluar. Kami melihat sekeliling sebentar untuk memeriksa apakah ada orang dengan membawa papan nama bertuliskan nama kami. Namun, kami tidak melihat satupun. Lalu kamipun berjalan ke arah kanan. Tidak berapa lama, ada seorang pria menghampiri kami. Ternyata, pria tersebut adalah LO (liason officer) nya teh Tya sekaligus guru bahasa Indonesia di sekolah dimana teh Tya akan bekerja.

Setelah beberapa lama, karena saya tidak melihat indikasi keberadaan LO saya di bandara, saya mencoba mengecek email saya melalui HP. Alhamdulillah, meskipun saya menggunakan kartu dari Indonesi, saya masih bisa mengakses internet. Alhamdulillah, LO saya mengirm email dan memberitahukan nomor HP nya. Lalu, saya beritahukan LO teh Tya mengenai ini karena LO teh Tya menanyakan dimana LO saya. LO teh Tyapun segera menelpon LO saya. Ternyata, LO saya masih berada dalam perjalanan dari Bendigo menuju Melbourne. Itu artinya saya harus menunggu sekitar satu jam. Sayapun kemudian diantar ke sebuah warung kopi di bandara untuk menunggu LO saya. Teh Tya dan LO-nya kemudian pergi meninggalkan saya, sendiri. Tidak apa, justru saya merasa sedikit bahagia. Hmm, petualangan saya dimulai.